Pengobatan


بسم الله الرحمن الرحيم

Pengobatan Menggunakan Habbatus Sawda’ (jintan Hitam)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya di dalam habbatus sawda’ (jintan hitam) terdapat penyembuh bagi segala macam penyakit kecuali kematian”.

Ibnu Syihab mengatakan: “Kata As-Saam di sini berarti kematian, sedangkan habbatus sawda’ berarti syuniz” [Al-Bukhari no. 5688/Al-Fath X/143, dan Muslim no. 2215 dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu. Lafazh ini adalah lafazh Muslim]

Habbatus sawda’ ini mempunyai manfaat yang sangat banyak. [Zaadul Ma’aad IV/297 dan lihat juga Ath-Thibbu Minal Kitab was Sunnah, karya Al-Allamah Muwaffaquddin Abdul Lathif Al-Baghdadi (hal.88)]

Jintan hitam sangat bermanfaat untuk mengobati berbagai macam penyakit dengan izin Allah.

Pengobatan dengan Madu

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang memikirkan” [An-Nahl : 69]

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Kesembuhan itu ada pada tiga hal, yaitu: Dalam pisau pembekam, meminumkan madu, atau pengobatan dengan besi panas (kayy). Dan aku melarang ummatku melakukan pengobatan dengan besi panas (kayy)”. [HR Al-Bukhari no. 5681/Fathul Baari X/137. Lihat bab: “Beberapa manfaat madu”. Zaadul Ma’aad IV/50-62 dan juga Ath-Thibbu Minal Kitab was Sunnah, karya Al-Allamah Muwaffaquddin Abdul Lathif Al-Baghdadi (hal. 129-136)]

Pengobatan dengan BEKAM [Lihat bahasan ini dalam Manhajus Salaamah fiimaa Warada fil Hijaamah oleh Dr Muhammad Musa Nashr]

Berbekam [Bekam: Mengeluarkan darah kotor dari kepala, badan, dan anggota tubuh lainnya dengan alat bekam] termasuk pengobatan yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan bekam dan memberikan upah kepada tukang bekam.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya sebaik-baik apa yang kalian lakukan untuk mengobati penyakit adalah dengan melakukan bekam” [HR Abu Dawud no. 3857 dan Ibnu Majah no. 3476, Al-Hakim IV/410, Ahmad II/342 dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, lihat Shahiih Ibni Majah II/259 no 2800 dan Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahiihah no. 760]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sebaik-baik pengobatan penyakit adalah dengan melakukan bekam” [HR Ahmad V/9,15,19, Al-Hakim IV/208 dari Samurah Radhiyallahu ‘anhu. Lihat Shahiih Al-Jaami’ish Shaghiir no. 3323, Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahiihah no. 1053]

Wasiat Malaikat Untuk Berbekam

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah aku melewati seorang Malaikat –ketika di Mi’rajkan ke langit- kecuali mereka mengatakan ‘Wahai Muhammad, lakukanlah olehmu berbekam” [HR Ibnu Majah no. 3477, Shahiih Ibni Majah II/259 no. 2801, Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahiihah no. 2263]

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan ketika beliau di Isra’kan, tidaklah beliau melewati sekumpulan Malaikat melainkan mereka meminta kami, ”Perintahkanlah ummatmu untuk berbekam” [HR At-Tirmidzi no. 2052, Shahiih Sunan At-Tirmidizi II/204 no. 1672]

Waktu yang Paling Baik untuk Berbekam

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang ingin berbekam, hendaklah ia berbekam pada tanggal 17,19,21 (bulan Hijriyyah), maka akan menyembuhkan setiap penyakit” [HR. Abu Dawud no. 3861 Al-Hakim, Al-Baihaqi IX/340 Dari Abu hurairah Radhiyallahu ‘anhu. Lihat Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahiihah no 622]

Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya hari yang paling baik bagimu untuk berbekam adalah hari ke 17, hari ke 19, dan hari ke 21 (bulan Hijriyyah)” [Shahiih Sunan At-Tirmdizi II/204 no. 1674]

Hari yang paling baik untuk berbekam adalah pada hari Senin, Selasa dan Kamis. Sebaliknya hindari berbekam pada hari Rabu, Jum’at, Sabtu dan Ahad” [HR Ibnu Majah no. 3487, Shahiih Ibn Majah II/261, Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahiihah no. 766]

PENGOBATAN MENGGUNAKAN AIR ZAMZAM

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda mengenai air zamzam ini:

“Air zamzam itu penuh berkah. Ia merupakan makanan yang mengenyangkan (dan obat bagi penyakit)” [HR Muslim IV/1922 no. 2473 dan matan yang terdapat dalam kurung adalah menurut riwayat Al-Bazaar, Al-Baihaqi dan Ath-Thabrani, dan sanadnya Shahih. Lihat Majma’uz Zawaa’id III/286].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

“Air zamzam tergantung kepada tujuan di minumnya” [HR Ahmad III/357, 372, Ibnu Majah no. 3062 dan lainya dari Jabir bin Abdillah Radhiyalahu ‘anhu, lihat Shahiih Ibni majah II/183 dan Irwaa’ul Ghalil no. 1123]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membawa air zamzam (di dalam tempat-tempat air) dan girbah (tempat air dari kulit binatang), beliau menyiramkan dan meminumkannya kepada orang-orang yang sakit” [HR At-Tirmidzi dan Al-Baihaqi V/202, lihat Shahiih At-Tirmidzi I/284, Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahiihah no. 883. Dan juga Zaadul Ma’aad IV/392]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Aku sendiri dan juga yang lainnya pernah mempraktekkan upaya penyembuhan dengan air zamzam terhadap beberapa penyakit, dan hasilnya sangat menakjubkan, aku berhasil mengobati berbagai macam penyakit dan aku pun sembuh atas izin Allah” [Zaadul Ma’aad IV/393 dan 178]

Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar Dia memberikan bimbingan kepada kita untuk dimudahkan dalam menggunakan pengobatan yang sesui dengan syari’at (Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas [Disalin dari buku Do’a & Wirid Mengobati Guna-Guna Dan Sihir Menurut Al-Qur’an Dan As-Sunnah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Cetakan Keenam Dzulhijjah 1426H/Januari 2006M -- via http://www.almanhaj.or.id/]

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

Otak merupakan pengendali utama terhadap tubuh. Setiap indera manusia mempunyai pusat di otak, yang dari indera tersebut berbagai isyarat dikumpulkan dan diolah di otak. Sehingga apabila seseorang terkena sihir penyakit, maka jin dari sihir itu telah berrsemayam di dalam otaknya, di tempat dimana dia diperintahkan oleh tukang sihir untuk tinggal.

Lalu jin tersebut menetap di pusat pendengaran, penglihatan atau indera tangan atau kaki. Pada saat itu, anggota tubuhnya akan mengalami tiga keadaan, yaitu:

  • Jin itu –dengan kekuasaan Alloh Subhaanahu wa Ta’ala– akan menghalangi sepenuhnya pengiriman isyarat, sehingga anggota tubuh itu tidak berfungsi, dan akhirnya si penderita itu akan mengalami kebutaan, ketulian, kebisuan atau lumpuh.

  • Jin itu –dengan kekuasaan Alloh Subhaanahu wa Ta’ala– terkadang akan menghalangi berbagai isyarat, dan pada kesempatan yang lain dia akan membiarkan isyarat-isyarat itu sampai kepada anggota tubuh yang dituju, sehingga sesekali anggota tubuh itu tidak berfungsi tetapi pada kesempatan lain bisa berfungsi.

  • Jin itu akan membuat otak memberi berbagai isyarat secara berturut-turut dengan cepat tanpa sebab, sehingga anggota tubuh menjadi kaku dan tidak dapat bergerak meski tidak terjadi kelumpuhan.

Alloh Subhaanahu wa Ta’ala berfirman tentang sihir, yang artinya: “…. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorang pun, kecuali dengan izin Alloh…..” (QS: Al-Baqarah: 102)

Dengan demikianlah, Alloh Subhaanahu wa Ta’ala telah menetapkan bahwa mudharat yang mengenai orang yang tersihir itu berasal dari para tukang sihir, tetapi terjadi atau tidak, itu semua tergantung pada kehendak-Nya.

Cukup banyak para dokter yang tidak mengetahui hal tersebut dan tidak membenarkannya. Tetapi setelah mereka saksikan sendiri terhadap berbagai keadaan, maka tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak membenarkan dan menolak perintah Alloh Subhaanahu wa Ta’ala Yang Maha Tinggi lagi Maha Kuasa.

Gelaja-gejala Sihir Pembawa Penyakit

Sebagian gejala-gejala tersebut hampir sama dengan gejala-gejala sakit anggota tubuh. Perbedaan antara keduanya itu akan terlihat pada saat dibacakan ruqyah pada penderita. Jika pada bacaan ruqyah itu si penderita merasakan pusing, melayang-layang, sakit kepala dan gemetar pada bagian ujung tubuhnya atau adanya perubahan dalam tubuhnya, maka penyakit yang dideritanya adalah seperti yang telah disebutkan, dan jika tidak, berarti hanya penyakit tubuh biasa yang bisa diobati melalui para dokter.

Berikut beberapa gejala-gejala sihir pembawa penyakit:

  • Sakit terus-menerus pada satu anggota tubuh.
  • Urat-urat menjadi kejang.
  • Lumpuh pada salah satu anggota tubuh.
  • Lumpuh total.
  • Tidak berfungsinya salah satu indera.

Pengobatan Sihir Pembawa Penyakit ini secara umum adalah:

1. Bacakanlah pada si penderita ruqyah syar’i tiga kali. Jika kesurupan sewaktu di ruqyah, maka jin yang ditugasi untuk menyihir akan berbicara melalui lidahnya. Untuk penjelasan hal ini, tidak disampaikan pada kesempatan ini mengingat pembahasannya yang panjang. (Sebaiknya membaca buku yang berjudul asli Wiqaayatul Insan minal Jinni wasy Syaithan baik yang berbahasa arab ataupun terjemahan terpercaya yang telah beredar).

2. Jika tidak kesurupan tetapi dia merasakan adanya beberapa perubahan ringan, maka terapkanlah beberapa hal berikut ini:

  • Rekamkan di satu kaset beberapa surat Al-Qur’an, yaitu Al-Faatihah, ayat Kursi, ad-Dukhaan, al-Jinn, surat-surat pendek, dan al-Mu’awwidzaat. Hendaklah dia mendengarkan kaset ini tiga kali sehari.

  • Bacakanlah ruqyah pada minyak jintan hitam dan perintahkan kepadanya agar dia memijatkannya pada dahinya dan bagian yang sakit pada pagi dan sore hari. Bacaan ruqyah yang dimaksud disini diantaranya adalah Al-Faatihah, Al-Mu’awwidzaat (al-Ikhlash, Al-Falaq, An-Naas), Ayat 82 surat Al-Israa’ dan beberapa bacaan doa.

Semuanya ini berlangsung selama 60 hari, jika dalam waktu itu penyakitnya bisa sembuh, maka yang demikian itu sudah cukup. Tetapi jika tidak sembuh juga, maka ruqyahlah sekali lagi, kemudian berikan arahan-arahan di atas untuk beberapa waktu yang menurut kita mencukupi dan sesuai kebutuhan. Lihat Pengobatan Ruqyah di Artikel ini

Pembahasan artikel ini memang tidak terlalu jelas dan rinci mengenai pengobatannya, namun semoga saja memberikan manfaat bagi kita semua. Akhirnya kita memohon kepada Alloh Subhaanahu wa Ta’ala agar memberikan kepada kita taufik dan menjauhkan diri kita dari berbagai macam bentuk kesyirikan yang merupakan sebab kehancuran di dunia maupun di akhirat. Wallohu A’lam.

(Sumber Rujukan: Ash-Shaarimul Battar fit Tashaddi lis Saharatil Asyraar; Wahid bin Abdissalam Baali; Sumber Artikel: MediaMuslim.Info)

Halaman Berikutnya »