بسمــــــــــم الله الرحمن الرحيم
Beliau adalah seorang ulama besar sehingga suatu kewajaran jika sekarang ini banyak kaum muslimin menyanjungnya dan mencintainya. Akan tetapi kalau meninggi-ninggikan derajat beliau berada di atas Rasululloh shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka hal ini merupakan suatu kekeliruan. Karena Rasululloh shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah rasul yang paling mulia di antara para nabi dan rasul yang derajatnya tidak akan pernah bisa dilampaui di sisi Alloh Subhanahu wa Ta’ala oleh manusia siapapun.
Ada juga sebagian kaum muslimin yang menjadikan Syaikh Abdul Qadir Al Jailani sebagai wasilah (perantara) dalam do’a mereka. Berkeyakinan bahwa do’a seseorang tidak akan dikabulkan oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala, kecuali dengan perantaraannya. Ini juga merupakan kesesatan.
Menjadikan orang yang sudah meninggal sebagai perantara tidak ada syari’atnya dan ini sangat diharamkan. Apalagi kalau ada yang berdo’a kepada beliau. Ini adalah sebuah kesyirikan besar. Sebab do’a merupakan salah satu bentuk ibadah yang tidak boleh diberikan kepada selain Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Alloh Subhanahu wa Ta’ala melarang makhluknya berdo’a kepada selainNya. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Alloh.” [QS: Al Jin:18]
Kelahirannya
Syaikh Abdul Qadir Al Jailani adalah seorang ‘alim di Baghdad yang lahir pada tahun 490/471 H di kota Jailan atau disebut juga Kailan. Sehingga di akhir nama beliau ditambahkan kata Al Jailani atau Al Kailani atau juga Al Jiliy.
Pendidikannya
Pada usia yang masih muda beliau telah merantau ke Baghdad dan meninggalkan tanah kelahirannya. Di sana beliau belajar kepada beberapa orang ulama seperti Ibnu Aqil, Abul Khatthath, Abul Husein Al Farra’ dan juga Abu Sa’ad Al Mukharrimi sehingga mampu menguasai ilmu-ilmu ushul dan juga perbedaan-perbedaan pendapat para ulama.
Pemahamannya
Beliau seorang Imam bermadzhab Hambali. Menjadi guru besar madzhab ini pada masa hidup beliau. Beliau adalah seorang alim yang beraqidah ahlus sunnah mengikuti jalan Para Pendahulu Islam Yang Sholeh. Dikenal banyak memiliki karamah-karamah. Tetapi banyak pula orang yang membuat-buat kedustaan atas nama beliau. Kedustaan itu baik berupa kisah-kisah, perkataan-perkataan, ajaran-ajaran, “thariqah” yang berbeda dengan jalan Rasululloh shallallaahu ‘alaihi wa sallam, para sahabatnya dan lainnya.
Syaikh Abdul Qadir Al Jailani menyatakan dalam kitabnya, Al Ghunyah, “Dia (Alloh) di arah atas, berada di atas ‘ArsyNya, meliputi seluruh kerajaanNya. IlmuNya meliputi segala sesuatu. “Kemudian beliau menyebutkan ayat-ayat dan hadits-hadits, lalu berkata, “Sepantasnya menetapkan sifat istiwa’ (Alloh berada di atas ‘ArsyNya) tanpa takwil (menyimpangkan kepada makna lain, -seperti Alloh dihati atau dimana-mana, ini adalah keyakinan batil-). Dan hal itu merupakan istiwa’ dzat Alloh Subhanahu wa Ta’ala di atas ‘Arsy.
Dakwahnya
Suatu ketika Abu Sa’ad Al Mukharrimi membangun sekolah kecil di sebuah daerah yang bernama Babul Azaj dan pengelolaannya diserahkan sepenuhnya kepada Syaikh Abdul Qadir. Beliau mengelola sekolah ini dengan sungguh-sungguh. Bermukim di sana sambil memeberikan nasehat kepada orang-orang yang ada di sana, sampai beliau meninggal dunia di daerah tersebut.
Banyak sudah orang yang bertaubat demi mendengar nasihat beliau. Banyak orang yang bersimpati kepada beliau, lalu datang ke sekolah beliau. Sehingga sekolah ini tidak kuat menampungnya. Maka diadakan perluasan.
Imam Adz Dzahabi dalam menyebutkan biografi Syaikh Abdul Qadir Al Jailani dalam Siyar A’lamin Nubala, menukilkan perkataan Syaikh sebagai berikut, “Lebih dari lima ratus orang masuk Islam lewat tanganku, dan lebih dari seratus ribu orang telah bertaubat.”
Murid-murid beliau banyak yang menjadi ulama terkenal, seperti Al Hafidz Abdul Ghani yang menyusun Umdatul Ahkam Fi Kalami Khairil Anam. Ibnu Qudamah penyusun kitab fiqh terkenal Al Mughni.
Wafatnya
Beliau Wafat pada hari Sabtu malam, setelah maghrib, pada tanggal 9 Rabi’ul Akhir tahun 561 H di daerah Babul Azaj.
Pendapat Para Ulama tentang Beliau
Ketika ditanya tentang Syaikh Abdul Qadir Al jailani, Ibnu Qudamah menjawab, “Kami sempat berjumpa dengan beliau di akhir masa kehidupannya. Beliau menempatkan kami di sekolahnya. Beliau sangat perhatian kepada kami. Kadang beliau mengutus putra beliau Yahya untuk menyalakan lampu buat kami. Terkadang beliau juga mengirimkan makanan buat kami. Beliau senantiasa menjadi imam dalam shalat fardhu.”
Ibnu Rajab di antaranya mengatakan, “Syaikh Abdul Qadir Al Jailani adalah seorang yang diagungkan pada masanya. Diagungkan oleh banyak para syaikh, baik ulama dan para ahli zuhud. Beliau memiliki banyak keutamaan dan karamah. Tetapi ada seorang yang bernama Al Muqri’ Abul Hasan Asy Syathnufi Al Mishri (orang Mesir) mengumpulkan kisah-kisah dan keutamaan-keutamaan Syaikh Abdul Qadir Al Jailani dalam tiga jilid kitab. Dia telah menulis perkara-perkara yang aneh dan besar (kebohongannya). Cukuplah seorang itu dikatakan berdusta, jika dia menceritakan segala yang dia dengar. Aku telah melihat sebagian kitab ini, tetapi hatiku tidak tenteram untuk meriwayatkan apa yang ada di dalamnya, kecuali kisah-kisah yang telah masyhur dan terkenal dari kitab selain ini. Karena kitab ini banyak berisi riwayat dari orang-orang yang tidak dikenal. Juga terdapat perkara-perkara yang jauh (dari agama dan akal), kesesatan-kesesatan, dakwaan-dakwaan dan perkataan yang batil tidak terbatas. Semua itu tidak pantas dinisbatkan kepada Syaikh Abdul Qadir Al Jailani. Kemudian aku dapatkan bahwa Al Kamal Ja’far al Adfawi telah menyebutkan bahwa Asy Syathnufi sendiri tertuduh berdusta atas kisah-kisah yang diriwayatkannya dalam kitab ini.”
Ibnu Rajab juga berkata, “Syaikh Abdul Qadir Al Jailani memiliki pendapat yang bagus dalam masalah tauhid, sifat-sifat Alloh Subhanahu wa Ta’ala, takdir, dan ilmu-ilmu ma’rifat yang sesuai dengan sunnah. Beliau memiliki kitab Al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq, kitab yang terkenal. Beliau juga mempunyai kitab Futuhul Ghaib. Murid-muridnya mengumpulkan perkara-perkara yang banyak berkaitan dengan nasehat dari majelis-majelis beliau. Dalam masalah-masalah sifat, takdir dan lainnya, ia berpegang pada sunnah. “
Imam Adz Dzahabi mengatakan, “intinya Syaikh Abdul Qadir Al Jailani memiliki kedudukan yang agung. Tetapi terdapat kritikan-kritikan terhadap sebagian perkataannya, dan Alloh Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan (ampunan atas kesalahan-kesalahan orang-orang beriman). Namun sebagian perkataannya merupakan kedustaan atas nama beliau.”
Imam Adz Dzahabi juga berkata, “Tidak ada seorangpun para ulama besar yang riwayat hidup dan karamahnya lebih banyak kisah hikayat, selain Syaikh Abdul Qadir Al Jailani, dan banyak di antara riwayat-riwayat itu yang tidak benar bahkan ada yang mustahil terjadi.” [mediamuslim.info]
Juli 1, 2007 at 1:40 am
pendapat yang berkembang saat ini memang berbeda beda terhadap syekh abd kadir jaelani,jalan tengah yang terbaik adalah memang mengetengahkan seperti yang dipaparkan pada awal tulisan di atas mengenai menempatkan posisi beliau sebagai orang yang hidup setelah rasulallah, namun pada akhirnya banyak orang yang melupakan garis nasabnya.jadi cintailah beliau sebagai orang yang memiliki nasab yang dekat kepada rasulallah.
Juli 2, 2007 at 8:51 am
syukron atas tanggapannya Mas Agus Sanjaya, semoga kita semua diberikan Nur dari Allah Swt untuk mempelajari Dinul Islam secara kaffah …
Agustus 2, 2007 at 8:56 am
Kasihan ya Abdul Kadir Jailani itu, namanya banyak dibawa-bawa untuk kesesatan, jampi-jampi, syirik, dll.
Agustus 2, 2007 at 9:02 am
Terima kasih Mas Eres atas tanggapannya, memang banyak dari kalangan kita membawa-bawa nama beliau untuk keberkahan, padahal hanya satu tempat kita untuk berdoa dan mendapatkan berkah, yaitu kepada Allah SWT, Dialah yang menciptkan Bumi dan Langit beserta isinya dan hanya kepada-Nya lah kita berdoa dan berserah diri.
Agustus 27, 2007 at 1:36 pm
saya pernah membaca manakib beliau,yang berisi amalan-amalan dan doa- doa beliau….dan sebagian menganggap beliau sultanul auliya,wali qutb atau al-ghaust…dan katanya beliau keturunan rasulullah SAW dari saidina Hasan ra(Cucu nabi,anak Saidina ALI bin Abu tholib ra dan Fatimah Azzahra Ra)terlepas dari semua itu,ada baiknya kita juga harus mencontoh kehidupan beliau yang zuhud,tawaddu dan sangat bertaqwa…..
Agustus 27, 2007 at 2:25 pm
Saudaraku Muh.Ikhsan, ST …
Memang apa yang saudaraku baca itu memang benar, tetapi banyak dari kalangan kita sangat mengkultuskan diri beliau bahkan teramat sangat mengkeramatkan beliau.
Tetapi bagi saya (dan betul apa yang saudaraku katakan) kita harus mengikuti contoh yang diberikan tentang kedekatannya dengan Allah SWT, bagaimana zuhudnya beliau, tawadu’nya, dan sebagainya …. dan memang beliau masih satu garis dari keturunan Rasullah SAW. Wallahu A’lam…
September 20, 2007 at 10:22 am
Di kehidupan sekarang orang sudah banyak melupakan jasa2 syeh2 kt yg terdahulu dalam mengembangakan ajaran agama sesusai pengajaran nabi kita Muhammad SAW,Marilah kita sama2 berdo’a kpd Allah smoga kita mendapat petunjuk jalan yang lurus kpd_Nya,sama sepeti guru2 kita yang terdahulu,salawat&salam kepada Nabi Muhammad SAW.Amin..YRBLAMN
September 20, 2007 at 11:53 am
Terima kasih atas komentarnya saudaraku Anma T Daud …
September 23, 2007 at 8:33 pm
assalamau alaikum..
terima kasih ya atas artikelnya mengenai syekh abdul qadir al jaleni sedikit banyak membuat saya lebih mengenai syekh abdul qadir.
saya ada pertanyaan yang sangat ingin saya ketahui, selama ini saya mempunyai hajat yang ingin banget dikabulkan oleh ALLAH SWT, boleh gak ya saya memakai perantara seperti summa khususon syekh abdul qadir al jaelani (mengirimkan al fatiha), namun saya juga sebelumnya mengirim al fatiha juga untuk rasulullah.
apakah hal seperti itu diperbolehkan dalam ajaran agama islam? apakah ini bisa dibilang syirik? soalnya di buku2 agama yang saya baca apabila ingin hajat dikabulkan oleh ALLAH baca asmaul husna dengan sebelumnya mengrimkan al fatiha kepada rasulullah dan syekh abdul qadir al jaelani..
apakah yang saya lakukan ini melanggar batasan2 dalam islam gak ya?
tolong di jawab ya pertanyaan saya ini karena penting sekali, untuk jawabannya saya ucapkan jazakumullah kairon katsiro..
ohya saya akan merasa sangat tersanjung sekali apabila berkenan mengunjungi blog saya di http://www.raviza.wordpress.com
wassalam.
September 27, 2007 at 1:02 pm
Ukhti Rara …
Tidak menjadi masalah kita mengirimkan Fathihah kepada para pendahulu kita terutama para Nabi dan ulama-ulama terkenal, tapi yang jelas mereka bukan perantara. Ingat Firman Allah SWT dalam QS. Al-Mu’minun Ayat 60, yang artinya: “Mintalah kepada-Ku, Aku akan memberikan.”
Jadi berdoalah atau mintalah langsung kepada Allah SWT, namun sebelum berdoa silakan mengirimkan pahala dan berkahnya Surah Fatihah kepada seluruh Nabi dan kerbatnya yang beriman serta kepada ulama-ulama yang dikenal kezuhudannya kepada Allah SWT.
Wassalam
September 29, 2007 at 9:33 am
ok deh kalo begitu..terimakasih ya akhi suryadhie atas penjelasannya..
wassalam.
September 30, 2007 at 8:35 pm
assalamu alaikum akhi suryadie..
aku dah nyoba cari di al qur’an surat Al-Mu’minun Ayat 60,kok artinya beda ya bukan “Mintalah kepada-Ku, Aku akan memberikan.”?
ohya ada yang mo aku tanya lagi, apakah disetiap al qur’an itu cara mengartikan setiap ayat2nya sama atau penafsirannya saja yang sama?
terimakasih atas penjelasannya..
Oktober 1, 2007 at 1:19 pm
Ukhti Rara …
~~ Sebenarnya artinya kurang lebih begitu, coba disimak lagi …
~~ Dalam mengartikan setiap ayat umumnya mempunyai kesamaan tetapi untuk penafsiran mungkin berbeda-beda dari sudut pandang yang menafsirkannya…
Demikian ukhti …
Oktober 2, 2007 at 8:00 am
ada yang tau dimana membeli kitab al-gunyah.trima kasih.rahmat
Oktober 2, 2007 at 2:34 pm
Saudaraku Rahmat …
Mudahan-mudahan dari saudara kita yang lain bisa memberikan infonya tentang Kitab yang dimaksud…
Wassalam
Oktober 2, 2007 at 6:02 pm
salam…sayer nak tau cmner kalo kite nk tau org tu dh tersesat…maksud sy die slah fhm dgn dgn ajaran ulama kadir aljailani
Oktober 4, 2007 at 2:58 pm
Terima kasih Ukhti Gadis atas tanggapannya, memang kita tidak sepatutnya mengkultuskan seseorang….
Oktober 29, 2007 at 2:09 pm
Jika ilmu islam hanya dipelajari kulitnya (hanya syariatnya tanpa sampai pada hakikat) maka kita termasuk orang yang menyebarkan fitnah hanya karena pengetahuan yang sedikit(semoga kita tidak termasuk didalamnya), bahwasanya yang dapat menilai keimanan seseorang hanya Allah. Ilmu Allah Maha Luas, ada yang tersurat ,tersirat, dan yang sirri, tergantung kegigihan pencapaian kita kepada Allah Azza wa Jalla, janganlah dengan ilmu yang sedikit kita seolah mengetahui segalanya. Ilmu Allah adalah luas. bahkan diantara kita pun masih ada yang syirik dalam menyembah Allah karena minimnya pengetahuan kita mengenai keberadaan Allah yang Maha Luas.(semoga kita tidak termasuk didalamnya). kita manusia sudah diberi akal budi, agama dan kitab yang sempurna, semua pengajaran yang baik yang sejalan dengan Quran wajib kita ikuti, dan yang diluar Quran jangan diikuti.oleh karena itu perdalamlah Quran sampai pada rasa/hakikat yang terkandung didalamnya. Cerita Musa As berguru kepada Khidir dalam Al- Kahfi secara logis memang diluar rasio, tapi Allah Maha Tahu atas apa2 yang tidak kita tahu. Semoga kita diberi sebaik-baik petunjuk. Syeikh Abdul Kadir Jaelani adalah salah satu dari banyak habib Allah. dan keimanannya masing2 Nabi, Rasul, Sufi dan kita pun tidak dapat disamakan antara satu dengan yang lain. tidak ada yang lebih atau kurang tanpa seizin Allah SWT Yang Maha tahu.
Oktober 29, 2007 at 2:28 pm
Saudaraku Ricky …..
~~ Terima kasih atas masukannya, semoga Allah SWT selalu memelihara kita dalam kebaikan dan ridhanya .
Wassalam
Oktober 30, 2007 at 1:09 am
salam!dalam kita membicarakan mengenai ilmu dan ulama besar yang terdahulu janganlah kita lupakan nasib saudara seagama kita di Palestine,Iraq,Afganistan,Cechnya,Kashmir,Selatan Thailand dan Mindanao,doa dan bantuan lainnya adalah perlu kita berikan agar nasib umat Islam terbela,wajib kita semua membantu saudara seagama.
November 1, 2007 at 8:22 am
Saudaraku Azman … syukron atas masukkannya dan semoga kita semua selalu berdoa untuk saudara-saudara kita yang muslim yang berada di benua lain, semoga Allah SWT memberikan ketabahan kepada mereka. Amiin.
Wassalam
November 8, 2007 at 10:26 am
alhamdullillah melalui blog ini,., ana bisa tau,., sebenarnya ulama kita asy syaikh abdul qodir al jaelani .benar2 bermanhaj salaf,., tdk seperti orang yg berkeelut dlm mistik,., atau aliran tertentu,.,berlebihan dlm memuji syaikh tsbt.buktinya al hafidz abdul ghani barmanhaj salaf,., dngan kitab ahdatul ahkam,. yg bnyak di baahs di kaji orang 2 salafyyun,., jazakalloh khairan katsira,., semoga ,., blog ini bermanfaat barokallohufikum,., teruskan perjuanganmu ukhti,.,selalu berpedoman pd al qur*an dan as sunnah dgn pemahaman salafus sholeh ,., amin
November 8, 2007 at 10:09 pm
Ass… wr wb..
sya pengen bcara logika az d sni yaitu tntang Sulthanul Auliya Syekh Abdul Qodir,
bgaimana kalau bgini,,
Presiden (d logikan sbg Allah SWT walaupun Allah SWT sbenarnya tidak mungkin untuk dilogikan krn Dia Berbeda dgn makhlukNya)apakah presiden akn mndengarkan langsung mmperhatikan rakyatnya (manusia)Pastilah melalui perantara dulu aplge rakyat tersebut sangat miskin (manusia pendosa. bsa sja perantara trsbt adlh para ajudan2 presiden yang dekat dengan presiden(para org2 sholeh yang udh dekat dgn Allah SWT)
jdi mnrut saya bsa saja Org Sholeh Syekh Abdul Qodir Al jaelani dijadikan perantara sebagai doa, tetapi hati kita tetap tau, yg mengabulkan tersbt hanay Allah SWT,
maaf kalau saya kurang setuju dengan pendapat anda,,
cobalah untuk belajar agma islm lbh lnjut lge dgn para ahlinya, bukan membaca sndri..
krna agma islam agma yang di bwa Syyidina Wa Maulana Muhammad SAW, bnar2 sempurna sprti yang kita ketahui dri Al Quran berarti agma ini dpat menyesuaikan diri sampai hari Kiamat..
November 14, 2007 at 12:20 pm
Saudaraku Maulana …
Terima kasih atas tanggapannya, semoga yang lain bisa membaca tanggapan ini.
Wassalam
November 15, 2007 at 1:37 pm
Apakah skrg ini ada ulama yang ke-aliman dan ke-ilmuannya setaraf beliau? sehingga dapat dijadikan rujukan persoalan ummat saat ini.
November 16, 2007 at 12:06 pm
Untuk saat sekarang ini, belum ada yang setaraf dengan beliau, wahai saudaraku RohmanNov. Semoga Allah selalu memberikan petunjuk bagi kita untuk mengikuti kezuhudan ulama-ulama masa lalu.
Wassalam
November 22, 2007 at 4:39 pm
untuk ricky sebelum ke hakikat kita baiknya mengetahui dahulu syariatnya selanjutnya jalani berdasarkan thoriqotnya, untuk selanjutnya nantinya hakikat dari anda menjalani syariat dan thoriqotnya akan muncul tanpa anda rasakan tetapi dirasakan oleh orang lain dan alam sekitar itu yang dinamakan hakikat,( hasil dari kita menjalani syariat & toriqotnya ” pancaran cahaya itu keluar bukan kedalam “)jadi hakikat tidak perlu dicari2 tapi jalani saja aturan dan caranya nanti juga datang dengan sendirinya dan bukan kita yang menilai tetapi luar yang menilai karena tangga yang 4 itu tidak bisa dipisah ( syariat thoriqot hakikat ma’rifat) Daud Musa Isa Muhammad. OK Bro”
Juli 29, 2009 at 4:20 am
assalamualaikum w.b.t…
syukur ke hadrat illahi krn dgn petunjuk-Nya dpt jua sy mberi komen dsini. Alhamdulillah, semoga apa yang sy katakn disini tdk menyimpang dr ajaran islam dan para rasul serta diizinkn oleh Allah s.w.t yg Maha Mengetahui. sy sedikit setuju dgn pendapat en. ajie. mmg benar, sempurnanya akhlak itu drpd islam, iman dan ihsan…dan sempurnanya islam itu pd syariat yg dituntut, tariqat yg dipelajari oleh guru yg murshid (InsyaAllah), hakikat yg diperolehi hasil pembelajaran dan amalan (syariat&tariqat)serta ma’rifat
yg diturunkan oleh Allah s.w.t utk hambaNya yg beriman dan beramal soleh.
suka bagi sy mengingatkn diri sy dan umat islam yg lain, yakni ‘awal agama mengenal Allah’. maksudnya, pelajaran yg pertama di dalam islam adalah mengenal Allah. siapa Allah? Dia lah penciptaku yakni tuhanku…dimana Allah? Allah tiada bertempat…(yakni tidak dpt dinyatakan tempatNya)Apa yg menyebabkan aku harus mengenalNya? kerana Dia lah Allah…tiada tuhan yg layak disembah melainkanNya dan Nabi Muhammad itu PesuruhNya…nah, bukankah ini intipati sebenar di dlm pengucapan 2 kalimah syahadah? maka, adakah masih ada lagi keraguan utk menyatakan tidak pd ilmu tariqat? tdk pd ilmu hakikat dan tdk pd ilmu ma’rifat(karamah)? sebenar2nya ilmu hakikat la yg kita harus pelajari dulu akan tetapi, memadailah dgn kita mengucapkan 2 kalimah syahadah sebagai tanda kita mengenal Allah yg Esa…kerana, tanpa ilmu hakikat, kita tdk mengenal Allah, tanpa ilmu syariat…kita spt bekas yg tanpa isinya , tanpa ilmu tariqat…ilmu dan amalan tdk bererti spt tdk berkulit dan tanpa ilmu ma’rifat(karamah)jadilah kita spt firaun yg sesat di dlm pencariannya…marilah kita renungkan bersama. dan demi Allah yg memegang nyawa ku, perbetulkan lah kata2 ku ini sekiranya salah kerana selama kita hidup di dunia ini, kita hanya lah pelakon..haiwan lah prop nya.. iblis laknatullah penjahatnya..jin watak sampingannya…para malaikat saksinya…syurga dan neraka penontonnya dan ALLAH s.w.t perencananya.semoga kita dpt mencari nikmatnya akhirat di dunia ini dan mencari dunia di akhirat sana. Allah yg Maha Mengetahui yg ghaib dan yg nyata.
November 23, 2007 at 9:16 am
Masya Allah … terima kasih Saudaraku Ajie semoga saudaraku Ricky mengerti akan tanggapan ini. Wassalam.
Januari 8, 2008 at 1:28 pm
asalammualaikum ana mau tanya syek abdulkadir itu nasab keberapa dari rasull, narasumber antum dari mana? syukron
Januari 11, 2008 at 9:21 am
Saudaraku Abdillah, artikel ini saya peroleh dari situs MediaMuslim.Info, silakan dicek di situsnya…
Maret 28, 2008 at 3:07 pm
ass, ikhwan yang senantiasa mudah2an selalu diberikan keberkahan dalam segala hal,,saya hanya ingin berkomentar sedikit,,ikwhan..
Bahwasanya kita selalu berdoa dan mendoakan kaum muslimin dan musliman ,,begitu juga dalam acara terkadang kita mengirimkan khusus surat Al-fatihah kepada Syeh Abdul Qodir Zaelani, dan mendoakan beliau setelah Rasulullah,,intinya ihwan,,kita tidak meminta kepada Syeh Abdul qodir zaelani,,kita sebatas mendoakan dan mengirim fatihah kepada orang2 sebelum kita salah satunya beliau,karena memang masih keturunan rasulullah,,jadi bukan meminta kepada beliau,,trimakasih,,mohon tulisan bapak dikoreksi,,dan silahkan ikhwan tanya kepada Ulama yang mengerti,,trimakasih,,semoga mahfum,,mohon maaf kalo tidak berkenan,,Asswrwbb..
Mei 16, 2008 at 9:46 pm
asalammualaikum, saya setuju sama pendapat mas anang, tolong dikoreksi kembali artikel diatas.
wasalam
Mei 17, 2008 at 9:42 am
Syukron atas masukkannya Akhi Anang dan Akhi Iman Rohiman, apa yang ana tulis berdasarkan info yang ana peroleh dari situs mediamuslim.info, Insya Allah ana akan cari buku yang lebih khusus tentang beliau dan bertanya kepada orang-orang yang tahu tentang sejarah beliau, dan Insya Allah akan dituangkan dalam blog ini.
Sekali lagi terima kasih atas koreksinya. Semoga kita semua dalam limpahan rahmat dari Allah Azza Wajalla. Amiin.
Mei 17, 2008 at 3:36 pm
Assalammu’alaikum warahmatullah, alhamdulillah masih ada saudara kita seperti mas Suryadi yg mau menyebarkan informasi yang benar. Dan memang apa yang mas Suryadi paparkan demikianlah adanya, memang banyak saudara2 kita yg tidak sempat menggali lg apakah amalan2 dlm berdoa misalnya ada tidak dalilnya, bukankah syarat ibadah itu ada dua dan tidak boleh hilang salah satunya?Yakni ikhlas semata2 karena Allah dan mengikuti contoh dari Rasulullah SAW? Dan memang benar jg msh bnyk saudara2 kita yg kurang teliti thd amalan2 yg dinisbatkan kpd Syeikh Abdul Kadir Jailani sdgkan mnrt riwayat yg soheh beliau adalah ulama salaf yg zuhud dan istiqamah. Wallahua’lam, jazakumullah
Mei 19, 2008 at 7:58 am
Buat akhi Babeaisy, syukron atas masukannya, ana cuma sekedar menyebarkan apa yang sudah ditulis sebelumnya. Semoga kita semata-mata ikhlas beribadah kepada Allah SWT. Amin.
Juni 14, 2008 at 10:33 pm
ass..sultanul aulia,hanya ada 1 di tiap2 masa.syekh abdul qodir al jaelani ulama yg sgt zuhud wara serta sgt tawadhu.beliau adalah sultanul aulia yg ke 3,diantara sultanul aulia yg 6 org.yg ke 1..syekh imam hambali.yg ke 2.syekh ad-darukudni.yg ke3 syekh abdul qodir al jaelani.yg ke4.syekh rohmat.yg ke5 syekh abdullah.urutan2 diatas sy ketahui dr seorang waliullah yg begitu dekat dgn sy.hanya seorang wali yg mengetahui wali,tentu anda semua ingin tau sultanul aulia yg ke6..
Juni 21, 2008 at 1:55 pm
met kenal……apa betul saikh abdul kadir jaelani mensifati Allah dgn tempt dan arah….kayak dah pernah baca alghunyah aja….coba lihat :
salafytobat.wordpress.com
Juli 21, 2008 at 9:56 am
assalam’mualaikum mas suryadhie mas saya sangat berterima kasih karena mas telah mengajak saya untuk mengenal lebih jauh syeh abdul kadir jailani dengan itu insya allah saya akan lebih dekat kepada sang pencipta amin.
September 3, 2008 at 2:23 pm
TAWASSUL
http://www.majelisrasulullah.org
Assalamualaikum.Wr.Wb.
Cahaya Rahmat Nya swt semoga selalu menerangi hari hari anda dengan kebahagiaan,
Saudaraku yg kumuliakan,
Saudara saudaraku masih banyak yang memohon penjelasan mengenai tawassul,
wahai saudaraku, Allah swt sudah memerintah kita melakukan tawassul, tawassul
adalah mengambil perantara makhluk untuk doa kita pada Allah swt, Allah swt
mengenalkan kita pada Iman dan Islam dengan perantara makhluk Nya, yaitu Nabi
Muhammad saw sebagai perantara pertama kita kepada Allah swt, lalu perantara
kedua adalah para sahabat, lalu perantara ketiga adalah para tabi’in, demikian
berpuluh puluh perantara sampai pada guru kita, yang mengajarkan kita islam, shalat,
puasa, zakat dll, barangkali perantara kita adalah ayah ibu kita, namun diatas mereka
ada perantara, demikian bersambung hingga Nabi saw, sampailah kepada Allah swt.
Allah swt berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah/patuhlah kepada
Allah swt dan carilah perantara yang dapat mendekatkan kepada Allah SWT dan
berjuanglah di jalan Allah swt, agar kamu mendapatkan keberuntungan” (QS.Al-
Maidah-35).
Ayat ini jelas menganjurkan kita untuk mengambil perantara antara kita dengan Allah,
dan Rasul saw adalah sebaik baik perantara, dan beliau saw sendiri bersabda :
“Barangsiapa yang mendengar adzan lalu menjawab dengan doa : “Wahai Allah Tuhan
Pemilik Dakwah yang sempurna ini, dan shalat yang dijalankan ini, berilah Muhammad
(saw) hak menjadi perantara dan limpahkan anugerah, dan bangkitkan untuknya
Kedudukan yang terpuji sebagaimana yang telah kau janjikan padanya”. Maka halal
baginya syafaatku” (Shahih Bukhari hadits no.589 dan hadits no.4442)
Hadits ini jelas bahwa Rasul saw menunjukkan bahwa beliau saw tak melarang
tawassul pada beliau saw, bahkan orang yang mendoakan hak tawassul untuk beliau
saw sudah dijanjikan syafaat beliau saw.
Tawassul ini boleh kepada amal shalih, misalnya doa : “Wahai Allah, demi amal
perbuatanku yang saat itu kabulkanlah doaku”, sebagaimana telah teriwayatkan dalam
Shahih Bukhari dalam hadits yang panjang menceritakan tiga orang yang terperangkap
di goad an masing masing bertawassul pada amal shalihnya.
Dan boleh juga tawassul pada Nabi saw atau orang lainnya, sebagaimana yang
diperbuat oleh Umar bin Khattab ra, bahwa Umar bin Khattab ra shalat istisqa lalu
berdoa kepada Allah dengan doa : “wahai Allah.., sungguh kami telah mengambil
perantara (bertawassul) pada Mu dengan Nabi kami Muhammad saw agar kau
turunkan hujan lalu kau turunkan hujan, maka kini kami mengambil perantara
(bertawassul) pada Mu Dengan Paman Nabi Mu (Abbas bin Abdulmuttalib ra) yang
melihat beliau sang Nabi saw maka turunkanlah hujan” maka hujanpun turun dengan
derasnya. (Shahih Bukhari hadits no.964 dan hadits no.3507).
Riwayat diatas menunjukkan bahwa :
Para sahabat besar bertawassul pada Nabi saw dan dikabulkan Allah swt. TAWASSUL
http://www.majelisrasulullah.org
Kenalilah Akidahmu 34
Para sahabat besar bertawassul satu sama lain antara mereka dan dikabulkan
Allah swt.
Para sahabat besar bertawassul pada keluarga Nabi saw (perhatikan ucapan Umar
ra : “Dengan Paman nabi” (saw). Kenapa beliau tak ucapkan namanya saja?,
misalnya Demi Abbas bin Abdulmuttalib ra, namun justru beliau tak mengucapkan
nama, tapi mengucapkan sebutan “Paman Nabi” dalam doanya kepada Allah, dan
Allah mengabulkan doanya, menunjukkan bahwa Tawassul pada keluarga Nabi
saw adalah perbuatan Sahabat besar, dan dikabulkan Allah.
Para sahabat besar bertawassul pada kemuliaan sahabatnya yang melihat Rasul
saw, perhatikan ucapan Umar bin Khattab ra : “dengan pamannya yang melihatnya”
(dengan paman nabi saw yang melihat Nabi saw) jelaslah bahwa melihat Rasul saw
mempunyai kemuliaan tersendiri disisi Umar bin Khattab ra hingga beliau
menyebutnya dalam doanya, maka melihat Rasul saw adalah kemuliaan yang
ditawassuli Umar ra dan dikabulkan Allah.
Dan boleh tawassul pada benda, sebagaimana Rasulullah saw bertawassul pada
tanah dan air liur sebagian muslimin untuk kesembuhan, sebagaimana doa beliau saw
ketika ada yang sakit : “Dengan Nama Allah atas tanah bumi kami, demi air liur
sebagian dari kami, sembuhlah yang sakit pada kami, dengan izin tuhan kami” (shahih
Bukhari hadits no.5413, dan Shahih Muslim hadits no.2194), ucapan beliau saw : “demi
air liur sebagian dari kami” menunjukkan bahwa beliau saw bertawassul dengan air liur
mukminin yang dengan itu dapat menyembuhkan penyakit, dengan izin Allah swt
tentunya, sebagaimana dokter pun dapat menyembuhkan, namun dengan izin Allah
pula tentunya, juga beliau bertawassul pada tanah, menunjukkan diperbolehkannya
bertawassul pada benda mati atau apa saja karena semuanya mengandung kemuliaan
Allah swt, seluruh alam ini menyimpan kekuatan Allah dan seluruh alam ini berasal dari
cahaya Allah swt.
Riwayat lain ketika datangnya seorang buta pada Rasul saw, seraya mengadukan
kebutaannya dan minta didoakan agar sembuh, maka Rasul saw menyarankannya
agar bersabar, namun orang ini tetap meminta agar Rasul saw berdoa untuk
kesembuhannya, maka Rasul saw memerintahkannya untuk berwudhu, lalu shalat dua
rakaat, lalu Rasul saw mengajarkan doa ini padanya, ucapkanlah : “Wahai Allah, Aku
meminta kepada Mu, dan Menghadap kepada Mu, Demi Nabi Mu Nabi Muhammad,
Nabi Pembawa Kasih Sayang, Wahai Muhammad, Sungguh aku menghadap demi
dirimu (Muhammad saw), kepada Tuhanku dalam hajatku ini, maka kau kabulkan
hajatku, wahai Allah jadikanlah ia memberi syafaat hajatku untukku” (Shahih Ibn
Khuzaimah hadits no.1219, Mustadrak ala shahihain hadits no.1180 dan ia berkata
hadits ini shahih dengan syarat shahihain Imam Bukhari dan Muslim).
Hadits diatas ini jelas jelas Rasul saw mengajarkan orang buta ini agar berdoa dengan
doa tersebut, Rasul saw yang mengajarkan padanya, bukan orang buta itu yang
membuat buat doa ini, tapi Rasul saw yang mengajarkannya agar berdoa dengan doa
itu, sebagaimana juga Rasul saw mengajarkan ummatnya bershalawat padanya,
bersalam padanya.
Lalu muncullah pendapat saudara saudara kita, bahwa tawassul hanya boleh pada
Nabi saw, pendapat ini tentunya keliru, karena Umar bin Khattab ra bertawassul pada TAWASSUL
http://www.majelisrasulullah.org
Kenalilah Akidahmu 35
Abbas bin Abdulmuttalib ra. Sebagaimana riwayat Shahih Bukhari diatas, bahkan
Rasul saw bertawassul pada tanah dan air liur.
Adapula pendapat mengatakan tawassul hanya boleh pada yang hidup, pendapat ini
ditentang dengan riwayat shahih berikut : “telah datang kepada utsman bin hanif ra
seorang yang mengadukan bahwa Utsman bin Affan ra tak memperhatikan
kebutuhannya, maka berkatalah Utsman bin Hanif ra : “berwudulah, lalu shalat lah dua
rakaat di masjid, lalu berdoalah dengan doa : “: “Wahai Allah, Aku meminta kepada Mu,
dan Menghadap kepada Mu, Demi Nabi Mu Nabi Muhammad, Nabi Pembawa Kasih
Sayang, Wahai Muhammad, Sungguh aku menghadap demi dirimu (Muhammad saw),
kepada Tuhanku dalam hajatku ini, maka kau kabulkan hajatku, wahai Allah jadikanlah
ia memberi syafaat hajatku untukku” (doa yang sama dengan riwayat diatas)”, nanti
selepas kau lakukan itu maka ikutlah dengan ku kesuatu tempat.
Maka orang itupun melakukannya lalu utsman bin hanif ra mengajaknya keluar masjid
dan menuju rumah Utsman bin Affan ra, lalu orang itu masuk dan sebelum ia berkata
apa apa Utsman bin Affan lebih dulu bertanya padanya : “apa hajatmu?”, orang itu
menyebutkan hajatnya maka Utsman bin Affan ra memberinya. Dan orang itu keluar
menemui Ustman bin Hanif ra dan berkata : “kau bicara apa pada utsman bin affan
sampai ia segera mengabulkan hajatku ya..?”, maka berkata Utsman bin hanif ra : “aku
tak bicara apa2 pada Utsman bin Affan ra tentangmu, Cuma aku menyaksikan Rasul
saw mengajarkan doa itu pada orang buta dan sembuh”. (Majmu’ zawaid Juz 2 hal
279).
Tentunya doa ini dibaca setela wafatnya Rasul saw, dan itu diajarkan oleh Utsman bin
hanif dan dikabulkan Allah. Ucapan : Wahai Muhammad.. dalam doa tawassul itu
banyak dipungkiri oleh sebagian saudara saudara kita, mereka berkata kenapa
memanggil orang yang sudah mati?, kita menjawabnya : sungguh kita setiap shalat
mengucapkan salam pada Nabi saw yang telah wafat : Assalamu alaika
ayyuhannabiyyu… (Salam sejahtera atasmu wahai nabi……), dan nabi saw
menjawabnya, sebagaimana sabda beliau saw : “tiadalah seseorang bersalam
kepadaku, kecuali Allah mengembalikan ruh ku hingga aku menjawab salamnya” (HR
Sunan Imam Baihaqiy Alkubra hadits no.10.050)
Tawassul merupakan salah satu amalan yang sunnah dan tidak pernah diharamkan
oleh Rasulullah saw, tak pula oleh ijma para Sahabat Radhiyallahu’anhum, tak pula
oleh para tabi’in dan bahkan oleh para ulama serta imam-imam besar Muhadditsin,
bahkan Allah memerintahkannya, Rasul saw mengajarkannya, sahabat
radhiyallahu’anhum mengamalkannya.
Mereka berdoa dengan perantara atau tanpa perantara, tak ada yang
mempermasalahkannya apalagi menentangnya bahkan mengharamkannya atau
bahkan memusyrikan orang yang mengamalkannya.
Tak ada pula yang membedakan antara tawassul pada yang hidup dan mati, karena
tawassul adalah berperantara pada kemuliaan seseorang, atau benda (seperti air liur
yang tergolong benda) dihadapan Allah, bukanlah kemuliaan orang atau benda itu
sendiri, dan tentunya kemuliaan orang dihadapan Allah tidak sirna dengan kematian, justru mereka yang membedakan bolehnya tawassul pada yang hidup saja dan
mengharamkan pada yang mati, maka mereka itu malah dirisaukan akan terjerumus
pada kemusyrikan karena menganggap makhluk hidup bisa memberi manfaat,
sedangkan akidah kita adalah semua yang hidup dan yang mati tak bisa memberi
manfaat apa apa kecuali karena Allah memuliakannya, bukan karena ia hidup lalu ia
bisa memberi manfaat dihadapan Allah, berarti si hidup itu sebanding dengan Allah?, si
hidup bisa berbuat sesuatu pada keputusan Allah?,
Tidak saudaraku.. Demi Allah bukan demikian, Tak ada perbedaan dari yang hidup dan
dari yang mati dalam memberi manfaat kecuali dengan izin Allah swt. Yang hidup tak
akan mampu berbuat terkecuali dengan izin Allah swt dan yang mati pun bukan
mustahil memberi manfaat bila memang di kehendaki oleh Allah swt.
Ketahuilah bahwa pengingkaran akan kekuasaan Allah swt atas orang yang mati
adalah kekufuran yang jelas, karena hidup ataupun mati tidak membedakan kodrat
Ilahi dan tidak bisa membatasi kemampuan Allah SWT. Ketakwaan mereka dan
kedekatan mereka kepada Allah SWT tetap abadi walau mereka telah wafat.
Sebagai contoh dari bertawassul, seorang pengemis datang pada seorang saudagar
kaya dan dermawan, kebetulan almarhumah istri saudagar itu adalah tetangganya, lalu
saat ia mengemis pada saudagar itu ia berkata “Berilah hajat saya tuan …saya adalah
tetangga dekat amarhumah istri tuan…” maka tentunya si saudagar akan memberi
lebih pada si pengemis karena ia tetangga mendiang istrinya, Nah… bukankah hal ini
mengambil manfaat dari orang yang telah mati? Bagaimana dengan pandangan yang
mengatakan orang mati tak bisa memberi manfaat?, Jelas-jelas saudagar itu akan
sangat menghormati atau mengabulkan hajat si pengemis, atau memberinya uang
lebih, karena ia menyebut nama orang yang ia cintai walau sudah wafat.
Walaupun seandainya ia tak memberi, namun harapan untuk dikabulkan akan lebih
besar, lalu bagaimana dengan Arrahman Arrahiim, yang maha pemurah dan maha
penyantun?, istri saudagar yang telah wafat itu tak bangkit dari kubur dan tak tahu
menahu tentang urusan hajat sipengemis pada si saudagar, NAMUN TENTUNYA SI
PENGEMIS MENDAPAT MANFAAT BESAR DARI ORANG YANG TELAH WAFAT,
entah apa yang membuat pemikiran saudara saudara kita menyempit hingga tak
mampu mengambil permisalan mudah seperti ini.
Saudara saudaraku, boleh berdoa dengan tanpa perantara, boleh berdoa dengan
perantara, boleh berdoa dengan perantara orang shalih, boleh berdoa dengan
perantara amal kita yang shalih, boleh berdoa dengan perantara nabi saw, boleh pada
shalihin, boleh pada benda, misalnya “Wahai Allah Demi kemuliaan Ka’bah”, atau
“Wahai Allah Demi kemuliaan Arafat”, dlsb, tak ada larangan mengenai ini dari Allah,
tidak pula dari Rasul saw, tidak pula dari sahabat, tidak pula dari Tabi’in, tidak pula dari
Imam Imam dan muhadditsin, bahkan sebaliknya Allah menganjurkannya, Rasul saw
mengajarkannya, Sahabat mengamalkannya, demikian hingga kini.
Walillahittaufiq
September 3, 2008 at 2:26 pm
ISTIGHATSAH
http://www.majelisrasulullah.org
Kenalilah Akidahmu
Istighatsah adalah memanggil nama seseorang untuk meminta pertolongannya, untuk
sebagian kelompok muslimin hal ini langsung di vonis syirik, namun vonis mereka itu
hanyalah karena kedangkalan pemahamannya terhadap syariah islam, pada
hakekatnya memanggil nama seseorang untuk meminta pertolongannya adalah hal
yang diperbolehkan selama ia seorang Muslim, Mukmin, Shalih dan diyakini
mempunyai manzilah di sisi Allah swt, tak pula terikat ia masih hidup atau telah wafat,
karena bila seseorang mengatakan ada perbedaan dalam kehidupan dan kematian
atas manfaat dan mudharrat maka justru dirisaukan ia dalam kemusyrikan yang nyata,
karena seluruh manfaat dan mudharrat berasal dari Allah swt, maka kehidupan dan
kematian tak bisa membuat batas dari manfaat dan mudharrat kecuali dengan izin
Allah swt, ketika seseorang berkata bahwa orang mati tak bisa memberi manfaat, dan
orang hidup bisa memberi manfaat, maka ia dirisaukan telah jatuh dalam kekufuran
karena menganggap kehidupan adalah sumber manfaat dan kematian adalah
mustahilnya manfaat, padahal manfaat dan mudharrat itu dari Allah, dan kekuasaan
Allah tidak bisa dibatasi dengan kehidupan atau kematian.
Sama saja ketika seorang berkata bahwa hanya dokter lah yang bisa menyembuhkan
dan tak mungkin kesembuhan datang dari selain dokter, maka ia telah membatasi
Kodrat Allah swt untuk memberikan kesembuhan, yang bisa saja lewat dokter, namun
tak mustahil dari petani, atau bahkan sembuh dengan sendirinya.
Terkadang kita tak menyadari bahwa kita lebih banyak mengambil manfaat dalam
kehidupan ini dari mereka yang telah mati daripada yang masih hidup, sungguh
peradaban manusia, tuntunan ibadah, tuntunan kehidupan, modernisasi dlsb, kesemua
para pelopornya telah wafat, dan kita masih terus mengambil manfaat dari mereka,
muslim dan non muslim, seperti teori Einstein dan teori2 lainnya, kita masih mengambil
manfaat dari yang mati hingga kini, dari ilmu mereka, dari kekuatan mereka, dari
jabatan mereka, dari perjuangan mereka, Cuma bedanya kalau mereka ini kita ambil
manfaatnya berupa ilmunya, namun para shalihin, para wali dan muqarrabien kita
mengambil manfaat dari imannya dan amal shalihnya, dan ketaatannya kepada Allah.
Rasul saw memperbolehkan Istighatsah, sebagaimana hadits beliau saw : “Sungguh
matahari mendekat dihari kiamat hingga keringat sampai setengah telinga, dan
sementara mereka dalam keadaan itu mereka ber istighatsah (memanggil nama untuk
minta tolong) kepada Adam, lalu mereka beristighatsah kepada Musa, Isa, dan
kesemuanya tak mampu berbuat apa apa, lalu mereka beristighatsah kepada
Muhammad saw” (Shahih Bukhari hadits no.1405), juga banyak terdapat hadits serupa
pada Shahih Muslim hadits no.194, shahih Bukhari hadits no.3162, 3182, 4435, dan
banyak lagi hadist2 shahih yang rasul saw menunjukkan ummat manusia ber
istighatsah pada para nabi dan rasul, bahkan Riwayat shahih Bukhari dijelaskan bahwa
mereka berkata pada Adam, Wahai Adam, sungguh engkau adalah ayah dari semua
manusai.. dst.. dst…dan Adam as berkata : “Diriku..diriku.., pergilah pada selainku..,
hingga akhirnya mereka ber Istighatsah memanggil manggil Muhammad saw, dan Nabi
saw sendiri yang menceritakan ini, dan menunjukkan beliau tak mengharamkan
Istighatsah.
Maka hadits ini jelas jelas merupakan rujukan bagi istighatsah, bahwa Rasul saw
menceritakan orang orang ber istighatsah kepada manusia, dan rasul saw tak
mengatakannya syirik, namun jelaslah Istighatsah di hari kiamat ternyata hanya untuk
Sayyidina Muhammad saw.
Demikian pula diriwayatkan bahwa dihadapan Ibn Abbas ra ada seorang yang keram
kakinya, lalu berkata Ibn Abbas ra : “Sebut nama orang yang paling kau cintai..!”, maka
berkata orang itu dengan suara keras.. : “Muhammad..!”, maka dalam sekejap
hilanglah sakit keramnya (diriwayatkan oleh Imam Hakim, Ibn Sunniy, dan diriwayatkan
oleh Imam Tabrani dengan sanad hasan) dan riwayat ini pun diriwayatkan oleh Imam
Nawawi pada Al Adzkar.
Jelaslah sudah bahwa riwayat ini justru bukan mengatakan musyrik pada orang yang
memanggil nama seseorang saat dalam keadaan tersulitkan, justru Ibn Abbas ra yang
mengajari hal ini.
Kita bisa melihat kejadian Tsunami di aceh beberapa tahun yang silam, bagaimana air
laut yang setinggi 30 meter dengan kecepatan 300km dan kekuatannya ratusan juta
ton, mereka tak menyentuh masjid tua dan makam makam shalihin, hingga mereka
yang lari ke makam shalihin selamat, inilah bukti bahwa Istighatsah dikehendaki oleh
Allah swt, karena kalau tidak lalu mengapa Allah jadikan di makam2 shalihin itu
terdapat benteng yang tak terlihat membentengi air bah itu, yang itu sebagai isyarat
ilahi bahwa demikianlah Allah memuliakan tubuh yang taat pada Nya swt, tubuh tubuh
tak bernyawa itu Allah jadikan benteng untuk mereka yang hidup.., tubuh yang tak
bernyawa itu Allah jadikan sumber Rahmat dan perlindungan Nya swt kepada mereka
mereka yang berlindung dan lari ke makam mereka.
Kesimpulannya : mereka yang lari berlindung pada hamba hamba Allah yang shalih
mereka selamat, mereka yang lari ke masjid masjid tua yang bekas tempat sujudnya
orang orang shalih maka mereka selamat, mereka yang lari dengan mobilnya tidak
selamat, mereka yang lari mencari tim SAR tidak selamat..
Pertanyaannya adalah : kenapa Allah jadikan makam sebagai perantara perlindungan
Nya swt?, kenapa bukan orang yang hidup?, kenapa bukan gunung?, kenapa bukan
perumahan?.
Jawabannya bahwa Allah mengajari penduduk bumi ini beristighatsah pada shalihin.
Walillahittaufiq
September 3, 2008 at 2:57 pm
…:-) mudah2an penjelasan diatas dapat memberikan pemahaman kepada saudara2ku yg sy cintai khususnya pd orang2 yang anti dalam masalah tersebut. pertanyaannya…sejauh mana pemahaman kita? apakah kita akan merasa lebih pintar dan merasa paling benar dari umat terdahulu yg Allah SWT muliakan? apakah mungkin beliau2 yg Allah SWT muliakan melakukan perbuatan syirik?
saran dr sy buat sdr2ku yg sy cintai… kalau anda tidak suka atau tidak sependapat dg orang2 yg suka mengamalkan yg tdk anda sukai alangkah baiknya anda bertanya pada ahlinya yg betul2 memahami syari’ah, atau diam saja. jangan dg mudahnya memusrikan, mengkafirkan orang, tentunya saudara2 yg sy cintai tau apa hukumnya.
pahamilah wahai saudaraku dengan hati nurani yg penuh dengan kelembutan Allah SWT. marilah kita bersatu…suadaraku yg Allah SWT muliakan.
wallahua’lam…
dibulan Ramadhan yg penuh rahmat dan magfirah dr Allah SWT ini… sy mohon ma’af yg sebesar2nya bila kata2 sy
kurang berkenan di hati saudara pembaca yg Allah SWT muliakan ini.
September 8, 2008 at 9:55 am
Akhi Mulyana, terima kasih atas tambahannya, semoga saudara-saudara kita dapat memahami apa yang berkembang sekarang, khususnya masalah beliau Syekh Abdul Kadir Jailani.
September 9, 2008 at 3:30 pm
Saudara Suryadhie,
Saya dari dulu tertarik untuk mempelajari sejarah syekh siti Jenar dan syekh abdul kadir Jailani, jika sampeyan punya referensi lagi, jika tidak keberatan tolong di share ke saya.
Thanks,
Wassalam
September 9, 2008 at 9:21 pm
Insya Allah akhir Saiful Bahri, jika ada referensi yang lain, akan diketengahkan dalam blog ini, syukron atas kunjungannya..
Wassalam
September 10, 2008 at 5:06 pm
terima kasih sebelumnya
tp saya mau bertanya, kepada Mas ?
dalam artikel ini saya melihat tulisan Alloh.
yang mau saya tanyakan yang benar itu Allah atau Alloh,
tapi menurut saya Allah.
September 11, 2008 at 10:07 am
Saudara d_tRiady, terima kasih atas kunjungannya, masalah tulisan Allah sebenarnya tidak menajdi masalah boleh ditulis ALLAH karena memang sebutannya demikian, boleh juga ditulis ALLOH karena banyaknya orang ketika melafadzkan kalimat ALLAH huruf A (huruf keempat) diabaca seakan-akan menyebut huruf O. Jadi tidak ada masalah. Lihat buku-buku tentang Tajwid.
Oktober 15, 2008 at 6:16 pm
salam kenal
Oktober 16, 2008 at 1:23 am
Assalamu’alaikum,
Untuk menambah komentar dan keterangan dari saudaraku Mulyana yang bagus sekali mengenai tawassul, dibawah ini saya kutip daftar isi mengenai Tawassul/Istighotsah,Tabarruk, ziarah kubur, Kemuliaan keturunan Nabi saw.dan….macam2 lainnya dari website http://www.everyoneweb.com/tabarruk penulis A.Shihabuddin. Bagi saudara2ku yang ingin mengetahui keterangan lebih jelas silahkan buka website itu dan pilih bab apa yang anda ingini. Insya Allah bisa bermanfaat buat kita semua.amin
DAFTAR ISI
Bab 1
Sebuah pengantar
Dalil-dalil larangan mensesatkan, mengkafirkan sesama muslimin !
Bab 2
Siapa golongan Wahabi/Salafi dan bagaimana fahamnya ?
Sekelumit pengantar tentang sekte Wahabi/Salafi
Riwayat singkat Muhammad Ibnu Abdul Wahhab
Penentangan terhadap Muhammad Ibnu Abdul Wahhab
Apakah Syeikh Sulaiman Ibnu Abdul Wahhab telah bertobat ?
Tauhid Rububiyyah
Tauhid Uluhiyyah
Definisi Ibadah berdasarkan pemahaman Al-Qur’an
Tolak ukur Tauhid Dan Syirik?
Apakah Kemampuan atau Ketidak-mampuan merupakan tolak ukur Tauhid dan Syirik?
Apakah Al-Qur’an hanya bisa diartikan secara tekstual atau literal?
Tajsim/Penjasmanian dan Tasybih/Penyerupaan Allah swt. kepada makhluk-Nya
Siapakah Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani
Al-Albani melemahkan beberapa hadits dari Imam Bukhori dan Imam Muslim dan….
Nama-nama ulama (berbagai madzhab) pengeritik al-Albani
Bab 3
Masalah taqlid (ikut-ikutan) kepada Imam Madzhab
Dalil kewajiban bertaqlid ketika tidak mampu berijtihad
Pembelaan al-Albani pada Syeikh Khajandi
Dialog antara Dr.Sa’id Ramdhan al-Buuti dengan anti madzhab
Tidak boleh mencari-cari keringanan ajaran yang paling mudah dan ringan dari Ulama
Bab 4
Bid’ah yang diperselisihkan
Apa yang dimaksud Bid’ah dalam hadits Rasulallah saw.?
Contoh-contoh Bid’ah yang diamalkan para Sahabat pada zaman Nabi saw.
Dalil-dalil yang berkaitan dengan Qadha dalam Sholat
Sholat sunnah Qabliyah (sebelum) sholat Jum’at
Mengangkat tangan waktu berdo’a
Menyebut nama Rasul saw.dengan awalan kata sayyidina
Penggunaan Tasbih waktu berdzikir bukanlah bid’ah sesat
Bab 5
Ziarah Kubur, Membaca Al-Qur’an, Talqin dan Tahlil untuk orang mati
Dalil-dalil Ziarah kubur
Ziarah kubur bagi wanita
Adab berziarah dan berdo’a didepan pusara Rasulallah saw.
Pembacaan Al-Qur’an di kuburan untuk orang yang telah wafat
Keterangan dari Ustadz Quraish Shihab
Pahalanya membaca Al-Qur’an
Amalan orang hidup yang bermanfaat bagi si mayyit
Kehidupan ruh-ruh manusia yang telah wafat
Talqin (mengajari dan memberi pemahaman/peringatan) mayyit yang baru dimakamkan
Tahlilan/Yasinan
Keterangan singkat tentang Haul (peringatan tahunan)
Dalil-dalil orang yang membantah dan jawabannya
Pahala sedekah untuk orang yang telah wafat
Pahala Puasa dan Sholat untuk orang yang telah wafat
Pahala Haji untuk orang yang telah wafat
Membangun masjid disisi kuburan
Memberi penerangan terhadap kuburan
Membangun kubbah diatas kuburan
Bab 6
Faedahnya kumpulan/majlis dzikir dan dalilnya
Dalil-dalil dzikir dan uraian ulama-ulama pakar mengenai majlis dzikir
Dalil mereka yang melarang dzikir secara jahar dan jawabannya
Bab 7
Sekelumit macam-macam makalah
website salafi 25/01/2004 yang memungkarkan peringatan maulid Nabi saw.
Berjabatan tangan antara lelaki dan wanita ajnabiyyah (bukan muhrim)
Bab 8
Maulidin Nabi Muhammad saw.serta mengagungkan Nabi saw.
Keterangan singkat mengenai peringatan Maulidin Nabi saw.
Cara-cara memperingati hari-hari Allah
Nama-nama kitab yang menulis riwayat hidup Rasulallah saw.
Dalil-dalil dan manfaat yang berkaitan dengan peringatan Maulidin Nabi saw.
Pendapat para Ulama dan tokoh cendekiawan Muslim
Masalah berdiri waktu pembacaan Maulid
Mengagungkan Nabi Muhammad saw.
Syair-syair untuk Nabi saw. dari para sahabat
Mencampur aduk antara Ta’dim/pengagungan dan Ibadah
Sekelumit tentang peringatan Isra dan Mi’raj Rasulallah saw.
Rasulallah saw.bukan manusia biasa tapi manusia sempurna/Kaamil
Bab 9
Wasithah/Tawassul dan Tabarruk
Sekelumit pengantar makna tawassul
Ayat-Ayat al-Quran yang berkaitan dengan Tawassul / Istighotsah
Tawassul dengan Nama-Nama Allah yang Agung
Tawassul melalui Amal Saleh
Tawassul melalui Do’a Rasul
Tawassul melalui Do’a Saudara Mukmin
Tawassul melalui Diri Para Nabi dan Hamba Saleh
Tawassul melalui Kedudukan dan Keagungan Hamba Sholeh
Hadits-Hadits tentang Legalitas/pembolehan Tawassul / Istighotsah
Prilaku Salaf Saleh Penguat Legalitas Tawassul / Istighotsah
Tawassul kepada Rasulallah saw. dikala wafatnya
Pengertian tawassul menurut Ibnu Taimiyyah
Muhammad Ibnu Abdul Wahhab Imamnya madzhab Wahabi/ Salafi tidak mengingkari tawassul
Diantara dalil-dalil orang yang membantah dan jawabannya
Tabarruk
Berkah dan Tabarruk dalam al-Quran
Dalil-dalil Tabarruk para Sahabat dari bekas air wudhu Nabi saw.
Dalil Tabarruk anak-anak para Sahabat pada Nabi saw.
Tabarruk para Sahabat dengan keringat, rambut dan kuku Nabi saw.
Dalil Tabarruk para Sahabat dari gelas Nabi saw.
Tabarruk para Sahabat dari tempat tangan dan bibir Nabi saw.
Tabarruk Para Sahabat dari Peninggalan dan Tempat Shalat Nabi
Tabarruk para Sahabat dari Tempat Shalat Nabi saw.
Dalil Tabarruk dari Pusara (Kuburan) Rasulallah saw.
Antar Para Sahabat pun Saling Bertabarruk
Jenazah dan Kuburan/Pusara Ulama yang Diambil Berkah
Golongan Wahabi/Salafi (pengingkar) mengisukan dan jawabannya
Bab 10
Nishfu Sya’ban
Cara ibadah, berdo’a pada malam nishfu Sya’ban
Dalil-dalil orang yang membantah dan jawabannya
Ibnu Taimiyyah menghidupkan malam nishfu Sya’ban dengan amalan khusus
Amalan ibadah pada bulan Rajab
Bab 11
Kemuliaan Keturunan (Ahlul Bait) Rasulallah saw.
Sekelumit sejarah dinasti Bani Umayyah dan dinasti Bani Abbasiyyah
Dalil-dalil tentang kewajiban untuk mencintai Ahlul-Bait/Keturunan Rasulallah saw.
Tafsir Surat Al-Kautsar
Ramalan akan datangnya Rasul dalam catatan kitab Hindu, kristen, yahudi dan persi
Pendapat Syekh Ali Tantawi dan saudara Segaf Ali Alkaff/Jeddah
Hadits yang diriwayatkan cucu Nabi saw. yang keenam
Pendapat Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Pendapat Prof.Dr.HAMKA
Hadits-hadits tentang akan munculnya Imam Al-Mahdi
Pendapat para ulama tentang “Siapakah yang dimaksud Ahlul-Bait” ?
Keturunan yang dijuluki Syarif/Sayyid
Kalimat hadits Al-Kisa’
Kalimat hadits Tsaqalain (dua bekal berat)
Hadits tentang kemuliaan dan kedudukan keturunan Rasul saw.
Kalimat hadits Safinah (Perahu) Pendapat Imam Turmudzi tentang makna hadits Tsaqalain, Safinah
Sanggahan/Jawaban para ulama terhadap pendapat Imam Turmudzi
Penutup
Kesimpulan singkat tentang isi buku ini
Oktober 16, 2008 at 8:23 am
Syukron ukhti Salmah atas masukkannya, buku yang ditulis oleh Ustadz A. Shihabuddin tentang Telaah Kritis atas Doktrin Paham Salafi/Wahabi, telah saya taut, dan masalah Dalil-dalil Larangan Mensesatkan, Mengkafirkan Sesama Muslim, saya juga kutip dari situsnya.
Wassalam
Oktober 21, 2008 at 8:18 am
Assalamu alaikum
wah ternyata sebagian kebingunan saya terjawab disini..
terima kasih ya mas.. saya minta ijin copy paste artikelnya .. jangan lupa tengok2 blog saya yang baru di sini ya ..
Wassalamu alaikum
Oktober 21, 2008 at 1:39 pm
Terimasih juga atas kunjungannya, semoga Allah SWT meridhai segala kativitas kita semua. Amiin
November 24, 2008 at 8:40 am
Waspadalah, zaman ini banyak fitnah. Banyak Nabi palsu, dan ulama/kiai gadungan yang akan memecah belah umat. jangan terpengaruh oleh fitnah/hasutan kepada para ulama/wali terdahulu. Semoga kita dapat barokah para wali/kekasih Alloh. amiin.
November 26, 2008 at 3:55 pm
Terima kasih saudaraku Ulum atas peringatannya, Insya Allah kita semua dapat terhindar dari segala macam fitnah, baik fitnah hidup maupun fitnah mati.
Wassalam
Januari 15, 2009 at 2:26 pm
Kalau sama2 masih belajar sesama umat muslim jangan saling menyalahkan,masing2 punya pendapat, yang penting tahu dulu ilmu nya baru bicara yang jelas dan saling menghargai sesama umat manusia…Ilahi Anta Maqsudi Waridhoka Matlubi Athini Maha Bataka Wa Ma’rifataka.
Februari 7, 2009 at 9:14 pm
Terima kasih Kang Endi atas tanggapannya.
April 16, 2009 at 11:56 pm
sependapat dengan kang ulum.perbedaan adalah rahmat,tetapi itu tergantung bagaimana dan sejauh mana kita menyikapinya.jangan sampai hal kecil jadi perdebatan panjang yang ujung-ujungnya saling menyalahkan.kita hormati tiap pendapat orang.maaf saya hanya orang yang baru mempelajari islam…..
April 28, 2009 at 12:28 pm
apakah benar ajaran2 syeh siti jenar sama dengan ajaran2 syeh abdul kodir jaelani? karna ad sebagian yg begitu nengagung2kan syeh siti jenar?
Juni 20, 2009 at 12:56 pm
sudah ikuti saja ajaran Nabi Muhammad SAW yakni teori ihsan, jika anda sudah mampu melaksanakan rukun Islam dan amal saleh lainnya dengan tingkat iman yang tinggi dan cara ihsan, semata yakin bahwa Allah SWT pasti melihat Anda, maka berarti anda sudah lulus menjadi seorang sufi, Insya Allah
Agustus 8, 2009 at 6:46 pm
Assalaamu’alaikum Wr. Wb.
Syeh Abdul Qadir al-Jaelani memang seorang ulama besar. Punya jasa besar dalam syiar Islam. Tapi telah banyak terjadi penyelewengan dengan mengkultuskan beliau sama bahkan lebih tinggi dari Rasullullah Muchammad SAW. Sampai-sampai berdoa sering kali ditawassulkan lewat beliau. Padahal menurut syariat yang ada, tawassul yang pernah dicontohkan oleh nabi antara lain melalui orang yang masih hidup (bukan kepada orang yang sudah meninggal) atau melalui amal perbuatan kita yang kita anggab paling baik. Selain itu kebiasaan mengirimkan pahala dari bacaan surat Al-Fatichah untuk Rasullullah, syeh Abdul Qodir dan lain-lain jelas tidak pernah dituntunkan oleh Rasullullah SAW. Pahala tidak bisa dikirim-kirimkan dan seseorang tidak bisa menanggung dosa orang lain (lihat Qur’an surat An-Najm 38-39). Jika kita mau mengkaji isi kandungan Al-Qur’an dan Hadits-hadits yang shochih, niscaya kita tidak akan mudah ikut amalan-amalan yang tiada berdasar, hanya ikut kebanyak orang, padahal kesemua itu kadang hanya didasari oleh prasangka saja.
Agustus 13, 2009 at 10:38 pm
akhina Muhamad Ilyas, alangkah baiknya kalau anda baca dahulu keterangan2 apa yg dimaksud tawassul dan tabarruk. Apakah ada contoh dari para salaf yg mengerjakan tawassul/tabarruk kepada orang yg sudah wafat? Karena cukup banyak riwayat, para sahabat bertawassul kepda Rasulallah saw. stlh beliau wafat dll. Kliklah http://www.everyoneweb.com/tabarruk bab tawassul/tabarruk atau bab2 lainnya (lht daftar isinya)yg anda butuhkan keterangannya.
Begitu juga kalau anda membaca kalimat dalam surat An-Najm 38-39 kesimpulannya ialah manusia tidak akan memperoleh (baik dosa atau pahala)selain apa yg tlh diusahakannya. Diayat ini malah tidak ada keterangan pembolehan orang utk tawassul baik pada org yg masih hidup maupun yg telah wafat. Oleh karenanya satu2nya jalan kita harus membaca keterangan para ulama mengenai makna ayat tsb., dan riwayat yg menunjukkan amalan para tokoh salaf Sholeh baik pada zamannya nabi saw., para sahabat setelah wafatnya beliau dan tabiín.
Jadi kalau tawassul (berdoa kepada Allah dgn menyertakan nama seseorang yg sholeh) itu dibolehkan maka tidak ada perbedaan antara yg masih hidup maupun yg telah wafat. Janganlah kita hanya membaca keterangan dari ulama yg anti tawassul/tabarruk tapi marilah kita juga membaca keterangan dan hadits2 yg diutarakan serta dishohihkan oleh para ulama yg membolehkan tawassul/tabarruk kepada orang yg masih hidup maupun tlh wafat. Karena bila anda mengharamkan sesuatu amalan maka harus menunjukkan dalil yg khusus maupun yg umum dan jelas ,baik dari Al-Qurán, maupun sunnah Rasulallah saw.mengenai amalan yg bersangkutan. Karena semua yg haram dan halal tlh diterangkan dlm syariát Islam.
Insya Allah stlh anda membuka situs diatas bisa menilai sendiri apakah benar tawassul atau tabarruk kpda orang yg tlh wafat diharamkannya??
November 5, 2009 at 5:51 pm
Ass… Wr… Wb…
Bagai mana pula dgn pegalaman yg pernah sy alami 10 thn yg lalu ketika itu ianya pd bulan puasa. Sy dan teman2x sekerja d undang rmh teman yg megundang unt berbuka d rmhnya. Ramai yg hadir dan setelah azan berkumandang sy dan teman2x km berbuka bersama. Setelah menimati juadah yg tlh tersedia dan tlh d makan setelah azan berkumandang km pun bersolat beramai. Setelah beberapa jam berlalu ramai teman2x sy yg minta unt pamit. Yg tingal d rmh teman sy hanya sy dan teman sy satu lg. Saling kt enak bercerita tetang pekerjaan yg kt kerjakan, tiba2x sy bangun dan melihat sekeliling rmh teman sy yg bayak barang2x lama dan bikai foto2x yg d gantung. D suatu sudut sy terlihat ada foto2x d dlm satu bikai yg tergantung d tembuk. Sy lihat foto2x itu ada beberapa muka dan d kipalanya mereka semua memakai sarban. Dlm hati sy megatakan “mukin org2x ini sudah meninggal, ada baiknya jk aku kirimkan fatiha dan mendoakan buat mereka2x semua semuga mereka semua aman d sana” Setelah sy bacakan doa buat mereka seterusnya sy mula kirimkan buat mereka dgn membacakan surah al-fatiha. Saat sy membaca surah al-fatiha, tiba2x sy terhidu bauan yg sagat wagi d hidung sy ketika membaca. Sy membaca surah al-fatiha Bauan itu seperti bauan kain yg menutupi kabah d Mekan yg pernah suatu ketika dl sy pernah membuat umbrah. Adakah perbuatan sy itu salah dr ajaran. Sedangkan niat sy ini adalah tulus dan iklas unt megirimkan doa dan fatiha buat mereka2x yg tlh meninggal dan waktu itu jg sy gak tau siapa mereka yg sebenar. Setelah d beri tau olh teman sy, baru sy tau mereka2x itu adalah wali2x allah zaman dl dan d beri tau pd sy yg paling atas d sebelah kanan sekali adalah Said Abdul Kadir Jailani wali besar waktu d zamanya dl dan d hormati hingga sekarang.
Harap dapat d jelaskan tetang pekara ini, sebab sy ini jahil tetang agama.
Wasalam…
November 5, 2009 at 8:07 pm
akhina jaelani yang terhormat,
amalan anda adalah amalan yang baik yang diridhoi oleh Allah. Anda mendoakan para waliyullah yg telah wafat dengan diakhiri ayat fatihah itu amalan para salaf kita.Baik dlm firman Allah maupun hadits banyak yang mencantumkan doa utk orang yg tlh wafat antara lain doa dlm sholat jenazah. Banyak juga riwayat hadits yang mengatakan bahwa org2 yg tlh wafat itu rohnya bisa terbang kemana-mana yg mereka kehendaki.Utk keterangan lbh mendetail silahkan anda klik http://www.everyoneweb.com/tabarruk bab ziarah kubur dan bab tawassul/tabarruk. semoga bermanfaat. salam
November 6, 2009 at 3:38 am
Sebelomnya sy igin megucapkan trimakaseh sebayaknya dgn penjelasan yg tlh d berikan olh salmah dan trimakaseh jg telah memberi halaman web buat sy unt mempelajarinya dgn lebeh mendlm lg tetang pekara ini. Dr itu tidak menjadi suatu kesalahan bagi dr sy yg sering memberi salam, mendoakan dan megirimkan surah al-fatiha buat ahli kubur d setiap kali sy meliwati makam atau kuburan sedang sy melintasi melalui perjalanan baik dr udara maupun darat. Sering jg sy memberi salam apa bila sy melihat rumah allah jk dlm perjalanan sy kemana jua. Sering kali sy megirimkan doa dan fatiha buat org2x yg masih hidup maupun yg tlh wafat yg membena dan mendirikan rmh allah. Baik dr org yg megeluarkan keuangga hingga kepd org yg bertungkus lumus unt membena rmh allah itu hingga siap sempurna. Sy buat semua ini adalah semata2x kerana allah, tidak kerna dgn yg lain atau d perantaraan baik yg hidup ataupun yg tlh wafat. Sebab setiap yg baik itu datangnya dr allah dan yg sebaleknya pula datangnya dr kita sendiri yg sering lalai dan lupa dr pegajaran yg sebanar.
Pernah bapa sy memberi pesanan pd sy dgn megatakan “jk engkau tak dapat menolong org yg lg dlm kesusahan dgn keuanggan, kau tolonglah org itu dgn mendoakan buat drnya”. Dgn ajaran yg tlh d ajarkan olh bapa sy itu, sy gunakan hingga ke saat ini. Dr itu jg sy sering berdoa buat keluarga, dr sy sendiri, bangsa, agama dan apa lg indonesia yg lg dlm kritis bangsa yg tidak terjaga. Semuga doa2x yg tlh sy ucapkan d terima allah yg maha pegaseh lagi maha penyayang.
Amin…….
Ya Allah……
Amin…….
Ya Rahman…..
Amin…….
Ya Rahim……
Sekian Wasalam buat semua yg membaca.
November 6, 2009 at 9:37 pm
utk akhina jaelani, untuk lebih hati2 saya tambahkan sedikit yaitu bila anda kirim doa dan fatihah kepada ahli kubur sebutkanlah ahli kubur yg muslim dan muslimat. Jadi bukan semua ahli kubur dan semua kuburan yang anda lewati.Karena doa dan fatihah tidak boleh diarahkan kepada mayit kafir.
wassalam
November 8, 2009 at 1:06 am
Trimakaseh buat salmah dgn tambahan yg tlh d berikan buat sy. Insa Allah akan sy kirimkan doa dan fatiha buat ahli kubur dgn meyebut muslim dan muslimat d dlm doa yg sy ucapkan d setiap kali sy kirimkan.
Kebaikan yg salmah berikan pd sy adalah hak Allah. Dr itu sy doakan semuga salmah d lidunggi allah selalu dan berjaya d setap lapagan yg d ceburi dan sakses d setiap perjalanan yg d langkah.
Sekian
Wbi…. Whi…. Wsa…. Wra….Wba….