بسمـم الله الرحمن الرحيم

Seandainya seorang tamu yang anda cintai dan anda muliakan menghubungimu dan menga-barkan bahwa dia akan datang kepadamu dan akan tinggal disisimu selama beberapa hari, maka tentu saja anda akan senang dan bahagia, oleh karena itu anda akan bersiap-siap untuk menyambut kunjungan tamu yang anda cintai itu serta melakukan apa yang anda sanggupi mulai dari mengatur dirimu sendiri, membersihkan rumah dan mempersiapkan acara baginya selama anda menjamunya.

Maka bagaimana pendapatmu wahai saudaraku yang tercinta jika tamu yang datang ini bukan hanya dicintai olehmu bahkan dia kecintaan Allah dan Rasul-Nya صلى الله عليه وسلم serta seluruh kaum muslimin? Bagaimana jika tamu ini membawa kebaikan dan keberkahan?

Dia adalah bulan Ramadhan yang mulia. Bulan Qur’an dan puasa, bulan tahajjud dan tarwih, bulan kesabaran dan ketaqwaan, bulan rahmat, pengampunan dan pembebasan dari api neraka. Bulan yang didalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, bulan yang diborgol padanya syaitan, ditutup pintu-pintu neraka dan dibuka pintu-pintu syurga. Kita memohon kepada Allah سبحانه وتعلى untuk mendapatkan keutamaan bulan tersebut. Bulan yang digandakan padanya kebaikan dan ketaatan, bulan yang didalamnya terdapat pahala-pahala yang agung dan keutamaan-keutamaan yang besar.

Maka sangat pantas bagi setiap yang mengetahui sifat-sifat tamu yang agung ini untuk menyambutnya dengan sambutan yang sebaik-baiknya dan bersiap-siap untuk menyambutnya dalam bentuk amaliyah agar meraih manfaat yang sangat agung sehingga keluar dari bulan Ramadhan dalam keadaan ruhnya telah suci dan jiwanya telah bersih.

Firman Allah سبحانه وتعلى

قَدْ أَفــْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا الشمس : 9

“Sangat beruntunglah orang-orang yang membersihkan jiwanya”  (QS. As Syams : 9)

Namun, jika anda perhatikan keadaan dunia Islam dalam menyambut bulan Ramadhan sungguh sangat disayangkan, mereka menyambutnya dengan hal-hal yang kebanyakan bertentangan dengan syari’at Allah سبحانه وتعلى.

Allah سبحانه وتعلى berfirman :

وَمَا أَكْثــَرُ النــَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بــــِمُؤْمِنِينَ يوسف :103

“Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya”. (QS. Yusuf:103)

Diantara mereka ada yang menyambutnya dengan perayaan-perayaan, mengadakan pawai lagu-lagu daerah dan nasyid-nasyid yang diiringi dengan musik. Diantara mereka ada yang menyambutnya dengan mempersiapkan acara-acara begadang seperti menonton film-film sinetron yang didalamnya banyak terdapat wanita-wanita yang berhias, menampakkan wajah dan jenis kemaksiatan lainnya. Sebagian yang lain menyambutnya dengan masuk dan berdesak-desakan di pasar untuk membeli aneka macam makanan dan minuman.

Sungguh sangat disayangkan, bulan yang seharusnya disambut dengan taubat, amal shalih dan bersyukur kepada Allah سبحانه وتعلى dengan hati, lisan dan seluruh anggota tubuh diganti dengan memperbanyak jenis makanan dan minuman sehingga seakan-akan bulan ini adalah bulan makan, minum dan tidur disiang hari serta begadang pada malam hari dengan berbagai jenis kemaksiatan. Padahal Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

شِرَارُ أُمــَّـتِيْ  اَلَّذِيْنَ غُذُوْا بِالنـَّعِيْمِ اَلَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ   أَلْوَانَ  الطَّعـَامِ رواه اليهقي

“Sejelek–jelek umatku adalah yang dikenyangkan dengan kenikmatan yaitu mereka yang memakan aneka macam makanan” (HR. Baihaqi)

Apa yang kami paparkan merupakan sebagian dari sekian banyak fenomena yang ada pada kaum muslimin dan kesemuanya itu bertentangan dengan petunjuk Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم. Kepada mereka semuanya kami ingatkan firman Allah سبحانه وتعلى :

قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى البقرة : 120

“Sesungguhnya petunjuk Allah adalah sebenar-benarnya petunjuk”  (QS. Al-Baqarah : 120)

Bagaimana seharusnya menyambut bulan ini ?

1. Berdoa

Yaitu berdoa kepada Allah agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian salaf. Demikian pula memohon kepada Allah pertolongan-Nya dalam melaksanakan puasa, shalat dan amalan-amalan shalih lainnya dengan sebaik-baiknya.

2. Bersuci dan membersihkan diri.

Yang kami maksudkan disini adalah kebersihan yang sifatnya maknawi yaitu taubat nashuha dari segala dosa dan maksiat dan ini wajib disetiap waktu. Kita katakan kepada ahli maksiat bagaimana pantas anda menyambut hadiah Allah سبحانه وتعلى kepadamu sedangkan anda dalam keadaan yang tidak diridhai-Nya? Bagaimana anda berpuasa dan berbuka dengan barang-barang yang haram? Wahai yang meninggalkan shalat bagaimana mungkin puasa anda diterima sedangkan anda meninggalkan rukun yang kedua, yang mana orang yang meninggalkannya, maka dia kafir secara mutlak !! Wahai pemakan riba, suap dan harta haram lainnya bagaimana anda menahan diri (berpuasa) dari segala yang mubah (makan dan minum) lalu berbuka dengan sesuatu yang  haram? wahai anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, bagaimana jiwamu bisa tenang berpuasa  padahal malaikat Jibril u telah mendo’akan kejelekan atasmu dan telah diaminkan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم !! Wahai yang meninggalkan kewajiban-kewajiban dan melakukan hal-hal yang haram seperti mendengarkan lagu-lagu, merokok, duduk-duduk dengan orang yang fasik dan lain-lain, bagaimana anda mengharapkan puasamu diterima dan bermanfaat padahal anda dalam keadaan seperti ini ? Apakah anda belum dengar sabda Nabi صلى الله عليه وسلم

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ رواه البخاري

“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan beramal dengannya maka tidak ada bagi Allah سبحانه وتعلى kepentingan terhadap puasanya (yang sekedar meninggakan makan dan minum)”  (HR. Bukhari)

Dan sabda beliau صلى الله عليه وسلم yang lain

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ رواه أحمد

“Boleh jadi orang yang berpuasa namun bagian yang didapatkannya hanyalah lapar dan haus” (HSR. Ahmad)

Maka bersegeralah bertaubat dengan taubat yang benar dan nasuha karena Alhamdulillah pintu taubat senantiasa terbuka dan taubat bukanlah hanya sekedar meninggalkan dosa-dosa namun taubat yang hakiki adalah anda kembali kepada Zat Yang Maha Mengetahui Yang Ghaib Jalla Wa ‘Ala dengan jiwa dan ragamu. Allah  سبحانه وتعلى berfirman :

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ إِنــــِّي لَكُمْ مِنْهُ نـــَذِيْرٌ مُبِينٌ الذاريات : 50

“Maka segeralah kamu kembali kepada (mena’ati) Allah, sesungguhnya aku pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu” (QS. Adz Dzariyat : 50)

3. Mempersiapkan jiwa untuk menyambut bulan puasa.
Yaitu dengan bersikap loba untuk berpuasa di bulan Sya’ban semampumu demikian pula memperbanyak amal-amal shalih lainnya pada bulan tersebut karena bulan Sya’ban adalah bulan yang diangkat padanya amalan-amalan kepada Allah سبحانه وتعلى. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Usamah bin Zaid yang diriwayatkan oleh Nasaai dan Ibnu Khuzaimah serta dihasankan oleh Al-Albani  bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم berpuasa penuh pada bulan Sya’ban atau beliau memperbanyak puasa padanya.
4. Bertafaqquh (mempelajari) hukum-hukum puasa dan mengenal petunjuk Nabi صلى الله عليه وسلم sebelum memasuki puasa: mempelajari syarat-syarat diterimanya puasa, hal-hal yang membatalkannya, hukum berpuasa dihari syak, perbuatan-perbuatan yang dibolehkan dan dilarang bagi yang berpuasa, adab-adab dan sunnah-sunnah berpuasa, hukum-hukum shalat tarawih, hukum-hukum yang berkaitan dengan orang yang memiliki udzur seperti mengadakan perjalanan, sakit, hukum-hukum yang berkaitan dengan zakat fitri dan lain-lain. Maka hendaknya kita berilmu sebelum memahami dan mengamalkannya. Sebagaimana firman Allah سبحانه وتعلى:

فَاعْلَمْ أَنــَّهُ  لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ محمد : 19

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu’min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan termpat tinggalmu” (QS. Muhammad:19)

Di dalam ayat ini Allah سبحانه وتعلى mendahulukan perintah berilmu sebelum berkata dan berbuat. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ رواه البخاري و مسلم

“Barang siapa yang diinginkan oleh Allah kebaikan kepadanya, maka Allah memandaikannya dalam ilmu Ad-Diin” (HR. Bukhari dan Muslim)

5. Mengatur dengan sebaik-baiknya program bagi tamu yang agung ini dengan mempersiapkan program untuk diri sendiri, keluarga dan orang-orang yang engkau cintai demi memanfaatkan bulan yang mulia ini sebaik-baiknya seperti membaca, mempelajari dan menghafal Al-Qur’an, qiyamul lail, memberikan buka bagi orang-orang yang berpuasa, umrah, I’tikaf, sedekah, zikir, tazkiyatun nafs dan berbagai jenis ketaatan yang lain.

Ya Allah, pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan dan bantulah kami dalam berpuasa, shalat tarawih dan amal shalih lainnya. Ya Allah, teguhkanlah kami dalam ketaatan hingga kami berjumpa dengan-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha mengabulkan permohonan. Wallahu A’lam.

Shalawat Allah dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad SAW, keluarga beliau dan para sahabatnya.

[Abu Abdillah-Maraji’: Lembaran da’wah yang ditulis oleh Abu Mush’ab Riyadh bin Abdir Rahman Al-Haqiil, via http://www.wahdah.or.id/]

بسمـم الله الرحمن الرحيم

Memegangi sebuah prinsip, harus ada keyakinan kuat yang mereka pegangi agar bisa tegak kepalanya, mantap langkahnya, jelas tujuannya dan ada alasan yang kuat untuk bertindak dan bekerja keras. Keyakinan kuat kepada Allah Yang Maha Menciptakan hampir tidak ada artinya jika tidak ada petunjuk yang pasti benarnya untuk hidup yang sesuai dengan kehendak-Nya. Ringkasnya, petunjuk itu harus pasti dan meyakinkan. Betul-betul petunjuk dari Allah ‘Azza wa Jalla. Bukan rekaan.

Tak kalah pentingnya untuk diperhatikan, petunjuk itu haruslah menjadi pijakan dalam bertindak, berpikir dan bersikap. Mengacu pada petunjuk, kita mengarahkan pikiran, sikap, keinginan dan tindakan kita. Berpijak pada petunjuk, kita membangkitkan mimpi-mimpi dalam diri kita untuk meraihnya sekaligus memperoleh kebaikan dari usaha maupun hasilnya. Petunjuk menjadi daya penggerak (driving force) untuk bertindak, berjuang, bersungguh-sungguh dan berkorban untuk menjalani serta mewujudkan cita-cita yang bersifat moralistik-idealistik.

Apakah petunjuk yang pasti benarnya itu? Al-Qur’an. Allah Ta’ala menjamin, ‘Alif Laam Miim. Kitab (al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada Kitab (al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.” (Al-Baqarah [2]: 1-4).

Tetapi Al-Qur’an tidak memberi manfaat jika kita menggunakannya sebagai pembenaran atas pendapat dan keinginan kita, bukan sebagai sumber kebenaran. Kita kehilangan petunjuk. Pada saat yang sama, sikap itu membuat anak-anak kehilangan kepercayaan terhadap al-Qur’an, meski secara kognitif mengakuinya sebagai kitab suci. Hilangnya kepercayaan itu secara pasti akan menyebabkan anak kehilangan rasa hormat terhadap kesucian agama sehingga hampir tidak mungkin menjadikannya sebagai pembentuk sikap hidup yang kokoh.

Maka, kita perlu menghidupkan budaya mengambil petunjuk dari al-Qur’an semenjak anak-anak masih amat belia. Kita mengakrabkan mereka dengan kebiasaan mengenali bagaimana kemauan al-Qur’an dalam setiap urusan sekaligus membuktikan kebenaran al-Qur’an. Kita membiasakan mereka untuk mencerna ayat al-Qur’an, lalu mengajak mereka menemukan apa yang harus mereka kerjakan berdasarkan ayat-ayat tersebut.

Ini berarti, kita memperkenalkan tradisi mendeduksikan pesan-pesan al-Qur’an dalam pemahaman. Artinya, bermula dari ayat al-Qur’an kita belajar merumuskan sikap dan tindakan. Bermula dari al-Qur’an, kita mengarahkan perasaan dan pikiran kita. Berpijak pada al-Qur’an kita menilai segala sesuatu. Dalam hal ini, al-Qur’an menjadi penilai, penjelas dan pembeda.

Cara memperkenalkan al-Qur’an semacam ini lebih sempurna jika orangtua maupun guru memiliki kecakapan untuk memahami ‘maksud al-Qur’an yang sebenarnya’ sebelum mengeksplorasi lebih jauh. Hal ini kita lakukan dengan membiasakan anak memahami maksud tiap ayat berdasarkan tafsir yang otoritatif, yakni tafsir baku yang semua mufassir terpercaya menerimanya. Tanpa memahami maksud yang sebenarnya, kita bukannya mengambil petunjuk dari al-Qur’an, tetapi menjadikan al-Qur’an sebagai penguat dari pendapat kita tanpa kita menyadari.

Contoh sederhana. Dalam al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendirian.” (Ar-Raad [13]: 11).

Penggalan ayat ini sering menjadi argumentasi mereka yang sedang meyakinkan saudara-saudaranya untuk melakukan perubahan nasib. Padahal ayat ini sebenarnya menunjukkan bahwa pada dasarnya Allah Ta’ala limpahkan kebaikan dan kemuliaan kepada kita sampai jiwa kita berubah.

Nah. Contoh sederhana ini menunjukkan betapa pentingnya kita menghidupkan budaya mengambil petunjuk secara tepat. Sebab, salah dalam mengambil petunjuk “meski sumber petunjuknya benar” akan salah pula tindakan yang kita ambil.

Di sini kita perlu berhati-hati. Pemahaman, perasaan, sikap, keyakinan dan tidak terkecuali tindakan, banyak berawal dari perkataan. Cara kita mengungkapkan, sangat berpengaruh terhadap pemahaman, penghayatan dan keyakinan. Sangat berbeda akibatnya bagi keyakinan anak terhadap al-Quran. Salah cara kita berbicara, salah pula sikap anak terhadap al-Qur’an sebagai petunjuk untuk masa-masa selanjutnya.

Sangat berbeda pengaruhnya bagi pikiran ketika kita berkata, “Begitulah Allah Ta’ala berfirman. Karena itu, kita perlu berusaha dengan sungguh-sungguh agar bisa lebih banyak bersedekah.” Kalimat ini mengisyaratkan bahwa al-Qur’an adalah sumber petunjuk dan inspirasi tindakan. Sedangkan kalimat berikut, melemahkan keyakinan anak terhadap al-Qur’an karena terasa sebagai pembenaran. Bukan sumber kebenaran. Sainslah yang menjadi sumber kebenaran manakala kalimat kita berbunyi, “Berdasarkan penemuan mutakhir tadi kita bisa melihat bahwa sikap kita bisa mempengaruh alam semesta, meskipun kelihatannya tidak merusak.

Agar anak semakin percaya kepada al-Qur’an suasana yang menjadikan al-Qur’an sebagai petunjuk dan acuan dalam bertindak perlu dihidupkan. Ini menuntut budaya pembelajaran yang kontekstual. Seorang guru al-Qur’an adalah guru yang kemana pun ia pergi, ia akan menunjukkan kepada murid-muridnya bagaimana al-Qur’an berbicara. Melalui cara ini anak memperoleh pengalaman mental bahwa al-Qur’an melingkupi seluruh aspek kehidupan, sehingga anak semakin dekat hatinya kepada petunjuk. Selengkapnya, pembicaraan tentang ini akan kita lanjutkan pada edisi mendatang.

Anak-anak juga perlu memperoleh pengalaman iman dan sekaligus intelektual bahwa al-Qur’an merupakan penimbang, penilai dan pemberi kata putus tentang benar tidaknya sebuah pendapat, bahkan penemuan yang dianggap ilmiah sekalipun. Bukan sebaliknya, menakar kebenaran al-Qur’an dari sains. Untuk itu, seorang guru perlu memiliki wawasan luas, meski yang diajarkan di sekolah hanya satu mata pelajaran: tahfidz. Menghafal al-Qur’an. Tujuannya, agar murid tidak hanya hafal di otak, tetapi lebih penting lagi meyakini di hati.

Selebihnya, tidak bisa tidak, modal yakin dan tidak ragu sama sekali terhadap al-Qur’an adalah dengan mengenal dan mengimani sumber al-Qur’an, yakni Allah Ta’ala dan proses turunnya.

Ringkasnya, ternyata untuk mengajak anak-anak meyakini al-Qur’an, guru tidak cukup sekedar bisa membaca. Hanya dengan meyakini secara total sehingga tidak ada keraguan di dalamnya, al-Qur’an bisa menjadi daya penggerak untuk bertindak. Dengan demikian, mereka tidak sekedar hafal. Lebih dari itu, hidup jiwanya dan kuat keyakinannya dalam memegangi prinsip.

Semoga melalui lisan para guru yang memancarkan cahaya al-Qur’an, anak-anak kita bisa belajar memegangi al-Qur’an dengan kuat, sehingga kita bisa berharap anak-anak itu kelak menjadi mukmin yang bertakwa, penuh belas kasih hatinya, berbakti pada orangtua, santun, tidak sombong dan hidup jiwanya. *Wallahu a’lam bish-shawab.

(Sumber: M. Fauzil Adhim via http://ghodiy.com/kuat-memegangi-prinsip)

بسمـم الله الرحمن الرحيم

Sejarah peradaban besar pada dasarnya adalah perjalanan hidup seorang manusia besar. Ia menciptakan perubahan bukan karena banyaknya harta yang dimiliki, atau kuatnya kekuasaan yang ia genggam. Tetapi ia menciptakan perubahan yang menggerakkan orang-orang di sekelilingnya oleh kuatnya jiwa, tajamnya pikiran, kokohnya hati, dan tingginya daya tahan berjuang dikarenakan besarnya cita-cita. Kerapkali, cita-cita besar itu bukan digerakkan oleh gemerlapnya dunia yang sekejap, tetapi oleh keyakinan yang menjadi ideologi perjuangan.

Orang-orang yang merintis jalan perjuangan, adalah mereka yang merelakan kenikmatan hidup demi meraih apa yang menjadi keyakinannya. Bukan karena mereka tidak pernah berhasrat pada kenikmatan, tetapi karena kenikmatan itu menjadi kecil dan tidak ada artinya dibanding cita-cita besar yang terpendam dalam jiwa.

Demi memperjuangkan keyakinan, mereka bersedia memilih jalan hidup yang tidak populer; mengawali perjuangan dengan menghadapi senyum sinis dan bahkan bila perlu–seperti halnya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam—dianggap gila dalam arti yang sebenarnya. Sedemikian kuatnya tudingan itu, sampai-sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Nuun, demi qalam dan apa yang mereka tulis, berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat, siapa di antara kamu yang gila.” (Al-Qalam: 1-6).

Orang-orang yang merintis jalan adalah mereka yang memiliki kelapangan hati untuk belajar, meski kepada yang lebih muda dan masih amat hijau. Mereka inilah yang memenuhi dadanya dengan kelapangan dan sekaligus kepedihan tatkala melihat saudaranya berkubang dalam keburukan.

Ketegaran jiwanya bertemu dengan kelembutan yang penuh kesantunan. Kematangan ilmunya bertemu dengan kehausan untuk belajar dan kesediaan untuk mendengar. Mereka ingin sekali mencicipkan kebenaran, bahkan kepada orang yang telah terjerumus dalam kesesatan.

Inilah yang menggerakkan para pendurhaka mendatangi majelis-majelisnya, dan bahkan mendatangi lututnya untuk bersimpuh. Inilah yang menyebabkan orang-orang yang keras hati menjadi luluh dan bahkan berbalik menjadi sahabat dalam berjuang dan penderitaan. Inilah yang membangkitkan semangat untuk berbenah sesudah mereka berputus asa atas banyaknya keburukan yang telah mereka perbuat. Ini pula yang menyebabkan satu negeri, satu kawasan, atau sekurangnya satu kampung mendapat kucuran barakah dari Allah; baik yang Ia turunkan dari langit maupun yang Ia munculkan dari bumi.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka barakah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al-A’raaf: 96).

Maka bertebaranlah kebaikan di dalamnya. Setiap yang masuk di tempat itu akan merasakan kebaikan yang merata. Hingga zaman bertukar, masa berganti. Para perintis telah beranjak tua dan sesudah itu pergi. Sementara yang dulu menyertai perjuangan di samping kiri, kanan, atau belakang, kini telah menjadi yang dituakan. Anak-anak yang dulu bermain-main lucu, sekarang sedang menentukan warna zamannya. Atau…, mereka ditentukan oleh semangat zaman yang melingkupinya.

Inilah titik krusial yang kerapkali menjadi awal terhentinya perjuangan. Banyak jebakan pada masa ini. Peralihan dari generasi perintis kepada generasi kedua, tepatnya generasi yang menyertai pahit getirnya perintisan ketika sudah mulai berjalan, jika tidak berhati-hati bisa terjatuh pada tafrith atau ifrath (kebablasan). Bisa terjebak pada tasahhul (menggampangkan) yang berlebihan atau sebaliknya tasyaddud (mempersulit) yang melampaui batas. Bisa terperangkap pada sikap jumud yang anti perubahan dan sulit menerima masukan, atau sebaliknya berlebihan dalam menanggapi perubahan dan bahkan tercebur dalam arus perubahan itu sendiri.

Sikap jumud membuat kita sulit menerima nasihat yang disampaikan dengan penuh kasih sayang sekalipun (tawashau bil-marhamah). Dalam keadaan seperti ini, amar ma’ruf nahi munkar bisa terhenti karena yang tua tidak bisa mendengar suara yang muda. Jika yang muda memiliki sikap takzim kepada yang tua, kebaikan insya Allah masih bertebaran di dalamnya.

Tetapi jika tidak segera disadari, situasi seperti ini dapat menyebabkan hilangnya sikap hormat dari yang muda kepada yang tua pada generasi berikutnya, yakni kelak ketika generasi ketiga memasuki masa dewasa, sementara generasi kedua menjalankan pola yang sama seperti yang pernah mereka jumpai. Mereka menjalankan pola yang sama, tetapi dengan penghayatan yang rendah atas apa yang seharusnya menjadi ruh perjuangan. Pada titik ini, generasi ketiga bisa berbalik menjadi berlebihan dalam menerima apapun yang datang dari luar, bahkan yang nyata-nyata bertentangan dengan nash Kitabullah. Alhasil, generasi ketiga justru menjadi perusak perjuangan generasi pertama. Na’udzubillahi min dzalik.

Apa yang salah sebenarnya? Banyak sebab yang bisa kita runut dan catat. Salah satunya adalah karena kita terjebak pada bentuk, lupa kepada yang prinsip. Atau sebaliknya, menyibukkan diri dengan prinsip tetapi mengabaikan bentuk. Kita tidak belajar secara utuh atas generasi terdahulu, sehingga lupa menyiapkan anak-anak memasuki masa depan. Bisa terjadi, kita bahkan tidak dapat membaca masa depan. Kita sibuk menjadi manusia masa lalu dan memaksa anak-anak untuk menjadi manusia masa lalu. Padahal ‘Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘anhu mengingatkan agar kita mendidik anak-anak untuk sebuah zaman yang bukan zaman kita. Kata ‘Ali, “Jangan paksakan anakmu untuk menjadi seperti kamu, karena dia diciptakan bukan untuk zamanmu.”

Di antara bentuk-bentuk pemaksaan adalah hilangnya kesediaan kita memahami anak-anak. Setiap kali ada masalah, kita rujukkan pada masa lalu, “Dulu bapak begini juga bisa.” Atau, “Ah, dulu orangtua kita tidak pakai macam-macam juga bisa berhasil.”

Kita lupa bahwa sekalipun prinsip-prinsip yang berjalan pada suatu zaman selalu sama, tetapi bentuknya bisa berubah. Kalau tidak disiapkan untuk menghadapi bentuk tantangan yang sesuai dengan zamannya, mereka bisa gagap mengantisipasi perubahan. Akibat berikutnya bisa tragis; mereka menjadi manusia kolot yang tidak memahami prinsip dengan baik dan tidak mampu memetakan bentuk persoalan yang sedang terjadi. Atau sebaliknya mereka kehilangan rasa hormat kepada yang tua sehingga berkata, “Ah, apa itu orangtua…! Gagasan mereka semuanya usang!”

Mereka tidak bisa membedakan mana yang tetap dan mana yang berubah, mana yang pasti dan mana yang praduga. Mereka memutlakkan apa yang ijtihadiyah, sehingga memunculkan generasi yang menisbikan semua perkara, bahkan yang jelas-jelas tetap dan mutlak. Dalam bentuk yang lebih ringan, pintu ijtihad dibuka lebar-lebar, meskipun terhadap orang yang tidak memiliki kualifikasi. Atau sebaliknya, melahirkan generasi yang tertutup pikirannya, kaku sikapnya, dan beku gagasannya. Seakan-akan agama ini telah menutup pintu bagi ijtihad.

Di antara sebab-sebab tidak munculnya generasi yang tanggap terhadap perubahan zaman tanpa hanyut di dalamnya, adalah tidak sejalannya dakwah dan jihad dengan pendidikan dan penyiapan generasi. Dakwah berjalan tanpa perencanaan yang matang sehingga kehilangan visi dan kepekaan.

Pendidikan berjalan tanpa arah yang jelas dan “ruh” yang kuat, sehingga mudah terpengaruh oleh tepuk-tangan, pemberitaan di koran atau pujian orang-orang yang tulus maupun mereka yang menikam secara halus dengan memuji.

Kita mendidik anak-anak untuk kita lihat hasilnya hari ini. Bukan untuk mempersiapkan mereka menantang masa depan seperti wasiat ‘Ali. Akibatnya, gemerlapnya prestasi hari ini tidak memberi bekal apa-apa bagi mereka untuk menciptakan masa depan. Sebaliknya, mereka menjadi orang yang hanya menyongsong masa depan atau bahkan digilas oleh masa depan.

Teringatlah kita kepada ayat Allah: “Tidaklah sepatutnya bagi orang-orang Mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama, dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga diri.” (At-Taubah: 122).

Agar perjuangan tidak mati, atau terhenti justru oleh anak-anak kita sendiri, ada yang perlu kita renungkan dari ayat tadi. [Sumber: M. Fauzil Adhim ~ Suara Hidayatullah via http://ghodiy.com/matinya-perjuangan]

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.